Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Sabtu, 11 November 2017 | 08:07 WIB
  • 3.000 Pulau di Indonesia Akan Tenggelam pada 2030

  • Oleh
    • Anisa Widiarini,
    • Bobby Andalan (Bali)
3.000 Pulau di Indonesia Akan Tenggelam pada 2030
Photo :
  • VIVA.co.id/Bobby Andalan
Kofi Annan

VIVA – Mantan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Kofi Annan, memaparkan data cukup mencengangkan saat menyampaikan pidato pada forum AdAsia 2017. Menurutnya, pada tahun 2030 sebanyak 3.000 pulau di Indonesia akan tenggelam akibat perubahan iklim. Selain Indonesia, ribuan pulau di negara lainnya juga akan bernasib sama.

“Perubahan iklim akan membawa dampak naiknya permukaan air laut. Tentu saja hal itu mengancam negara-negara kepulauan. Indonesia salah satunya. Jika perubahan iklim tak mendapat pencegahan dan air laut terus naik, diperkirakan 3.000 pulau di Indonesia akan tenggelam pada tahun 2030,” kata Kofi dalam pidatonya bertema 'Created Positive Change' di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC), Jumat, 10 November 2017.

Di depan 1.500 delegasi dari 16 negara yang menghadiri forum AdAsia 2017 itu Kofi melanjutkan, salah satu yang bisa mencegah perubahan iklim semakin parah adalah sektor usaha. Di matanya, sektor bisnis sangat memungkinkan mengambil peran mengantisipasi perubahan iklim global.

Menurut Kofi, sudah saatnya perusahaan mendorong pengembangan ekonomi hijau. Salah satu contoh peran yang bisa diambil oleh perusahaan yakni mendorong penggunaan energi terbarukan.

Beruntung, kata dia, saat ini negara-negara di dunia seperti berlomba mengembangkan dan menggunakan energi terbarukan. Namun, katanya, hal itu juga mesti didukung oleh perusahaan sebagai bentuk kontribusi mereka terhadap mitigasi perubahan iklim, polusi udara dan persoalan global lainnya. Sebab, peluang ke arah ekonomi hijau terbuka lebar. Hanya saja, hal itu belum dioptimalkan sepenuhnya.

“Efisiensi dan energi terbarukan bisa diformulasikan oleh perusahaan bekerjasama dengan universitas. Saya mendorong hal itu agar dilakukan sebagai bentuk mitigasi terhadap perubahan iklim yang semakin mengkhawatirkan,” katanya.

Tak hanya perubahan iklim, Kofi menilai sektor usaha juga bisa berperan pada persoalan global lainnya seperti pencemaran udara, sanitasi dan air bersih. Menurut Kofi, ada jutaan orang di kawasan Asia dan wilayah lainnya yang terkontaminasi polusi udara, sanitasi yang buruk dan ketiadaan air bersih. (ase)