Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Selasa, 14 November 2017 | 13:02 WIB
  • Perang Anti-Korupsi di Arab Saudi Diragukan Investor Asing

  • Oleh
    • Endah Lismartini
Perang Anti-Korupsi di Arab Saudi Diragukan Investor Asing
Photo :
  • Reuters
Putra Mahkota Kerajaan Arab Saudi, Pangeran Mohammad bin Salman

VIVA – Lebih dari sepekan yang lalu, Putera Mahkota Arab Saudi, Pangeran Mohammad bin Salman, meneriakkan perang terhadap korupsi. Tanggal 4 November 2017, ia langsung mendeklarasikan pembentukan Komite Anti-Korupsi Arab Saudi.

Sehari setelah komite itu dibentuk, petugas yang berwenang  itu langsung melakukan  penangkapan terhadap sejumlah pangeran dan pejabat negara di Saudi yang diduga terlibat dalam perkara korupsi. Pangeran Mohammad bin Salman menjadi motor gerakan tersebut. Salah seorang yang ditangkap adalah Pangeran Alwaleed bin Talal, seorang multijutawan yang menjadi investor di berbagai negara dan pemilik jaringan hotel Four Seasons, dan lainnya adalah Pangeran Mutaib bin Abdullah, Pimpinan Garda Nasional.

Tapi langkah putera mahkota dipertanyakan oleh sejumlah investor asing. Tak sedikit yang meragukan niat Mohammad bin Salman, dan mengaitkannya dengan ambisi putera mahkota untuk menyingkirkan pesaingnya dalam upaya perebutan tahta.

Diberitakan oleh Voa, aksi pangeran disambut baik oleh generasi muda warga Saudi. Namun investor asing memilih berhati-hati. Mereka khawatir apa yang dilakukan oleh Mohammad bin Salman adalah tindakan yang terlalu besar.

Lancarkan Suksesi

Sebagian lainnya meragukan niat bersih pangeran dan meyakini bahwa tindakan itu adalah upaya untuk menguatkan kekuasaan dan proses agar suksesinya tak terganggu jika ayahandanya, Raja Salman bin Abdullah harus lengser.

Menurut kabar yang beredar saat ini, upaya pembersihan itu belum selesai. Komite Anti-Korupsi masih akan terus melakukan penangkapan. Menurut VoA, upaya penangkapan tu mengejutkan para diplomat asing di Saudi. Diperkirakan sudah 1.700 akun bank atas nama individual yang dibekukan oleh pemerintah Saudi.

Upaya besar ini dikhawatirkan akan membuat Saudi terguncang, apalagi negara tersebut sedang berada dalam kondisi yang tak stabil paska gonjang ganjing merosotnya harga minyak secara drastis sejak dua tahun lalu. (ren)