Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Rabu, 29 November 2017 | 11:53 WIB
  • Hujan Air Mata Saat Ayah Maafkan Pembunuh Anaknya

  • Oleh
    • Endah Lismartini
Hujan Air Mata Saat Ayah Maafkan Pembunuh Anaknya
Photo :
  • Youtube
Suasana haru saat ayah maafkan pembunuh anaknya di pengadilan Amerika Serikat.

VIVA – Seorang ayah memeluk dan memaafkan seorang pemuda yang dihukum karena membunuh anak laki-lakinya. Ia mengatakan bahwa memaafkan adalah semangat Islam.

Sombat Jitmoud kehilangan anak laki-lakinya, Salahuddin Jitmoud, pemuda berusia 22 tahun yang sehari-hari bekerja sebagai pengantar pizza. Malam saat pembunuhan terjadi, Salahuddin baru selesai bertugas mengantarkan pizza terakhir di Lexington, Kentucky. 

Polisi berhasil menangkap pelaku, Trey Relford, berusia 31 tahun.  Relford mengaku telah merencanakan perampokan dan penyerangan, namun ia menolak mengaku sebagai pembunuh Salahuddin. Hakim menjatuhkan vonis 31 tahun penjara kepada Relford. Dan ketika Sombat berbicara kepada Relford, ruang sidang mendadak sunyi dan penuh air mata.

Sombat mengatakan telah memaafkan Relford. "Islam mengajarkan, bahwa Tuhan tidak akan bisa memaafkan seseorang kecuali ia telah mendapat dari orang yang ia rugikan," ujar Sombat seperti dikutip dari Independent pekan lalu.

"Saya marah pada setan, yang telah menyesatkan Anda dan mendorong Anda melakukan kejahatan yang mengerikan," ujar Sombat melanjutkan.

Dengan suara sedikit bergetar, namun tetap tenang, Sombat lalu melanjutkan. "Saya tidak menyalahkan Anda, saya tidak marah kepada Anda, saya memaafkan Anda. Apapun yang terjadi pada Anda berasal dari Allah. Biarkan mereka yang meyakini hal ini meletakkan kepercayaan penuh pada ketetapan-Nya. Atas nama anak saya dan ibunya, saya memaafkan Anda."

Lalu dengan yakin Sombat mengatakan, bahwa jika anaknya ada di ruangan saat itu, maka anaknya juga akan memaafkan Relford. Apa yang disampaikan Sombat membuat Relford yang duduk di sebelah pengacaranya menangis. Sombat lalu memberikan tisu pada Relford dan kembali mengatakan, bahwa ia memaafkan Relford. 

Seisi ruang sidang dicekam haru. Nyaris semua orang meneteskan airmata mendengar ketulusan Sombat memaafkan pembunuh anaknya. Hakim bahkan memutuskan untuk menskors sidang karena suasana yang sudah sangat emosional.

Setelah selesai menyampaikan isi hatinya, Sombat lalu turun dari kursinya. Ia berjalan menghampiri Telford, yang langsung berdiri menyambutnya. Kedua orang itu lalu berpelukan dan bertangisan. Keluarga Relford ikut menghampiri dan memeluk Sombat.

Relford dan ibunya meminta maaf kepada Somad.