Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Sabtu, 2 Desember 2017 | 18:28 WIB
  • Trump Segera Umumkan Jerusalem Ibu Kota Israel

  • Oleh
    • Endah Lismartini
Trump Segera Umumkan Jerusalem Ibu Kota Israel
Photo :
  • Kobi Gideon/Government Press Office (GPO)/Handout via REUTERS
Presiden AS Donald Trump (kiri) dan PM Israel, Benjamin Netanyahu di Menara Trump, New York, AS.

VIVA – Presiden Amerika Serikat Donald Trump dikabarkan akan segera mengumumkan Jerusalem sebagai ibu kota Israel. Pengumuman itu akan diumumkan pada Rabu pekan depan.

Trump bukan Presiden AS pertama yang menjanjikan Jerusalem untuk menjadi ibu kota Israel. Namun ia menindaklanjutinya, dan ia membela orang-orang Israel yang meyakini seluruh Jerusalem adalah tanah orang Israel.  

Tindakan Trump ini dikhawatirkan akan membawa implikasi besar pada proses perdamaian yang terus dibicarakan di Palestina. Apalagi, aneksasi Israel di wilayah Jerusalem Timur pada 1967 dan upaya pendudukan yang terus terjadi setelahnya masih dianggap tindakan yang ilegal oleh PBB.

Bagi Palestina, yang sebagian besar penghuninya beragama Islam, sebagian wilayah Jerusalem terdapat situs-situs suci umat Islam. Kelompok aktivis pejuang Palestina menegaskan, perlawanan mereka untuk mempertahankan Jerusalem membawa implikasi. Di seluruh Timur Tengah, pemimpin pemerintahan, dan kelompok ekstremis, jika AS meneruskan rencana itu, maka itu akan dianggap sebagai sebuah alasan untuk melawan Israel, Amerika, dan sekutu mereka.

Nabil Abu Rudeina Juru bicara Presiden Palestina Mahmoud Abbas, memberikan peringatan, resolusi konflik justru terletak pada Jerusalem Timur yang diakui sebagai ibu kota Palestina. "Jerusalem Timur , dengan tempat-tempat sucinya, adalah awal dan akhir dari sekian banyak solusi dan banyak proyek yang akan menyelamatkan wilayah tersebut dari kehancuran," ujarnya melalui sebuah pernyataan.

Sementara itu, salah seorang pejabat AS mengatakan, AS juga tidak akan memindahkan kedubes mereka dari Tel Aviv ke Jerusalem. Selama beberapa dekade, presiden AS terus menandatangani penundaan untuk pemindahan ibu kota Israel tersebut, mengingat konflik Israel-Gaza.

Dalam sebuah wawancara dengan Washington Post, anggota Dewan Legislatif Palestina Qais Abdul Karim mengatakan, pemindahan kedubes bisa menggagalkan upaya perdamaian. "AS akan kehilangan statusnya sebagai perantara perdamaian, dan jelas menunjukkan keberpihakannya pada Israel dan menjadi sekutunya," ujar Karim seperti dikutip dari The Independent, 2 Desember 2017.

Saat dipimpin Barack Obama, hubungan Amerika dengan Israel tak harmonis, sebab Obama menentang pembangunan pemukiman Israel yang dibawah pemerintahan Benjamin Netanyahu, terus berlanjut. Dan Trump bersumpah akan memperbaiki pelanggaran itu.