Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Senin, 4 Desember 2017 | 15:52 WIB
  • Jordania: Bahaya Jika AS Tetapkan Jerusalem Ibu Kota Israel

  • Oleh
    • Endah Lismartini
Jordania: Bahaya Jika AS Tetapkan Jerusalem Ibu Kota Israel
Photo :
  • REUTERS/Jonathan Alcorn
kedutaan Israel di Los Angeles didemo

VIVA – Menteri Luar Negeri Jordania, Ayman Safadi memperingatkan Amerika Serikat soal konsekuensi yang sangat berbahaya, jika tetap nekat mengumumkan Jerusalem sebagai ibu kota Israel.

Menlu Safadi mengaku ia telah mengatakan kepada Menteri Luar Negeri AS, Rex Tillerson bahwa deklarasi itu akan memicu kemarahan besar di Arab dan negara Muslim.

Isu dunia saat ini sedang kencang dilanda kabar bahwa Presiden AS Donald Trump akan mengumumkan Jerusalem sebagai ibu kota Israel. Pengumuman itu dikabarkan dilakukan pada Rabu pekan ini.

Menantu yang juga penasihat Trump, Jared Kushner mengatakan hingga saat ini, tidak ada keputusan apapun yang sudah diambil oleh Trump.

Melalui akun media sosialnya, Safadi menuliskan, "Berbicara dengan #Menteri Luar Negeri AS Tillerson mengenai konsekuensi sangat berbahaya dengan mengumumkan Jerusalem sebagai ibu kota Israel. Keputusan itu bisa memicu terjadinya kemarahan besar di seluruh jazirah Arab, dan negara-negara Muslim di seluruh dunia. Pengumuman itu juga bisa meningkatkan ketegangan dan melemahkan semangat perdamaian."

Hingga saat ini, tak ada respons yang jelas dari Kementerian Luar Negeri AS.

Sementara itu, Presiden Palestina, Mahmoud Abbas terus mencari dukungan internasional untuk mendukungnya melawan upaya Trump, agar tak melanjutkan niat mengumumkan itu. Menurut keterangan kantor Kepresidenan Palestina, Abbas terus mencari dukungan hingga ke Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.

Abbas ingin menjelaskan, "betapa berbahayanya setiap langkah yang dilakukan, jika Kedubes AS dipindahkan dari Tel Aviv ke Jerusalem, dan mengumumkan Jerusalem sebagai ibu kota Israel."

Pemimpin Palestina itu terus memperingatkan pemindahan dan pengakuan itu akan mengancam solusi dua negara yang saat ini sedang digencarkan.