Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Kamis, 7 Desember 2017 | 11:25 WIB
  • AS Akui Yerusalem, Wapres JK: Indonesia di Pihak Palestina

  • Oleh
    • Dedy Priatmojo,
    • Fajar Ginanjar Mukti
AS Akui Yerusalem, Wapres JK: Indonesia di Pihak Palestina
Photo :
  • VIVA.co.id/Fajar GM
Wakil Presiden Jusuf Kalla.

VIVA – Wakil Presiden RI Jusuf Kalla menegaskan, Indonesia berada di pihak Palestina dalam menyikapi pengakuan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump atas Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

Pengakuan, disampaikan Trump pada Rabu, 6 Desember 2017 waktu AS yang sekaligus berupa instruksi agar Departemen Luar Negeri AS segera memulai proses pemindahan Kedutaan Besar AS untuk Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem.

"Disampaikan juga oleh Ibu Menlu, Indonesia tentu posisinya berada di belakang pihak Palestina," ujar JK usai menghadiri acara The 10th Bali Democracy Forum (BDF) di Indonesia Convention Exhibition (ICE), BSD City, Banten, Kamis, 7 Desember 2017.

Menurut JK, sikap Trump melanggar keputusan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) yang menyatakan bahwa penentuan perihal pengakuan atas status Yerusalem harus dilakukan melalui mekanisme pembahasan bersama antara Palestina dan Israel.

Seperti diketahui, Yerusalem ibarat menjadi kota bersama yang sejak lama dianggap sebagai wilayah lahirnya tiga peradaban agama besar yaitu Yahudi, Nasrani dan Islam. Yerusalem adalah wilayah sensitif yang wilayahnya diperebutkan antara Israel dan Palestina.

"Tentang Yerusalem harus dibicarakan antara Palestina dengan Israel, tidak bisa sepihak. AS menyarankannya sepihak," ujar JK.

JK menyampaikan bahwa selaku negara yang berada di pihak Palestina, Indonesia akan menempuh sejumlah upaya diplomatik dalam menyikapi tindakan Trump. Upaya itu akan dilakukan baik melalui PBB atau pun Organisasi Kerja Sama Islam (OKI).

"Stand pointnya bahwa Indonesia, sejak hal itu diumumkan, bahkan sebelumnya juga, berada di pihak Palestina," ujar JK.

Rencana Amerika Serikat mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel menuai reaksi dunia. Sikap Donald Trump itu sama artinya dengan memupus mimpi perjuangan kemerdekaan Palestina yang tertindas. Selama ini, Yerusalem ibarat menjadi kota bersama yang sejak lama dianggap sebagai wilayah lahirnya tiga peradaban agama besar yaitu Yahudi, Nasrani dan Islam.

Padahal sekian lama, belum ada Presiden AS yang mau meluluskan secara gamblang harapan Israel mencaplok Yerusalem sebagai miliknya. Status quo tetap dipertahankan demi menjaga perdamaian dan pembicaraan melalui two states solution. Di bawah kepemimpinan Trump, harapan Israel tersebut menjadi kenyataan. (mus)