Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Kamis, 7 Desember 2017 | 13:16 WIB
  • Ahok, WNI yang Masuk Daftar Tokoh Pemikir Global 2017

  • Oleh
    • Ezra Natalyn
Ahok, WNI yang Masuk Daftar Tokoh Pemikir Global 2017
Photo :
  • Instagram
Foto Ahok pakai seragam dinas di masa-masa terakhir jadi viral

VIVA – Mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki "Ahok" Tjahaja Purnama masuk dalam daftar 100 orang pemikir dunia versi Foreign Policy atau daftar Global reThinkers 2017. Biasanya para figur yang masuk dalam daftar tersebut adalah pemimpin dunia dan pribadi yang dianggap bisa memengaruhi dunia mereka dengan pemikiran maupun perbuatannya.

"Tahun ini Foreign Policy kembali menghadirkan figur legislator, teknokrat, komedian, advokat, enterpreneur, pembuat film, presiden, orang-orang yang dipenjara akibat politik, strategis dan para visioner yang telah membuat dunia kembali berpikir ada yang salah dengan dunia kita dan perlu membentuknya kembali agar lebih baik. Mereka adalah orang-orang yang berbuat pada tahun 2017," dituliskan Foregn Policy sebagai pembuka.
 
Sejumlah figur yang masuk dalam daftar 2017 tersebut antara lain, Presiden Prancis Emmanuel Macron, Presiden Korea Selatan Moon Jae-in, Senator Filipina yang keras memprotes Presiden Duterte, Leila de Lima dan Dubes AS untuk PBB, Nikki Haley, Politikus AS Steve Adler yang selalu membela imigran hingga aktivis perempuan Arab, Manal al-Sharif dan lainnya. Ahok menjadi satu-satunya WNI di antara para tokoh tersebut.

Dalam kebijakan luar negeri dan pengaruh di negaranya, mereka orang-orang yang dianggap menonjol dan takut tampil berbeda.

Benjamin Soloway dari Foreign Policy sebagaimana dirilis laman itu mengatakan, sejak muncul dan menjadi pemimpin Jakarta, Ahok berani berbeda dibandingkan pemimpin sebelumnya.

"Dia tetap berdiri di tengah kondisi fundamentalisme yang ada di Indonesia," sebut Soloway.

Diketahui bahwa Ahok pada saat ini sedang menjalani hukuman penjara setelah dia menolak mengajukan banding atas vonis hakim kurungan dua tahun karena dianggap bersalah atas kasus penodaan agama. (ase)