Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Jumat, 19 Mei 2017 | 06:14 WIB
  • Fenomena Media Sosial Bahayakan Remaja dan Anak

  • Oleh
    • Lutfi Dwi Puji Astuti,
    • Adinda Permatasari
Fenomena Media Sosial Bahayakan Remaja dan Anak
Photo :
  • Pixabay/DariuszSankowski
Ilustrasi wanita menggunakan ponsel pintar.

VIVA.co.id – Anak-anak dan remaja di zaman serba gadget, mulai tak bisa lepas dari smartphone. Di era serba digital ini, penggunaan media sosial pun semakin bikin kecanduan. Bahkan, mereka yang masih di bawah umur, semakin lihai dan berani tampil ‘unjuk diri’ dengan berbagai cara di akun jejaring sosial media seperti Facebook, Twitter, Instagram, Snapchat hingga Pinterest.

Tapi masalahnya, apa yang mereka tampilkan, justru dinilai tidak sepantasnya dan tak seharusnya. Hal-hal seperti curahan hati masalah kehidupan pribadi, hingga foto-foto yang menunjukkan adanya pelanggaran moral ikut diunggah.

Dengan kondisi jiwa yang terbilang masih labil dan terkadang tidak bisa terkontrol, tanpa memikirkan akibatnya, membuat para remaja dan anak-anak ini sering salah dalam memilih dan bersikap. Kondisi remaja seperti ini, dinilai memprihatinkan.

Kemana pun pergi, apapun yang dilakukan selalu dipamerkan dan diunggah. Fenomena tampil selfie, juga semakin mewabah di kalangan anak-anak dan remaja.  

Sebuah survei seperti dilansir laman Kidshealth pun mengungkap, sekitar 90 persen remaja telah menggunakan beberapa bentuk media sosial dan 75 persen memiliki profil di situs jejaring sosial, kata para ahli.

Lebih dari setengah dari semua remaja Amerika, juga terungkap mengunjungi situs jejaring sosial setiap hari. Angka-angka ini jauh dari beberapa tahun yang lalu.

Memang, diakui para ahli, ada banyak hal baik tentang media sosial. Namun, sayangnya usia anak-anak dan remaja, seringkali membuat pilihan yang salah saat mereka mengeskpos sesuatu ke situs seperti Facebook, atau YouTube. Bahkan, terkadang hal ini menimbulkan masalah.

Bahaya media sosial

Dinilai dari sisi positifnya, jejaring media sosial memang sangat bermanfaat untuk menjadi penghubung yang baik dengan teman dan keluarga. Bahkan, jejaring media sosial juga dinilai bermanfaat untuk menyebarkan kampanye-kampanye positif, informasi yang bermanfaat, bahkan mampu meningkatkan kreativitas mereka, saat melakukan sharing sebuah ide, musik dan seni.

Tak hanya itu, media ini juga bisa dijadikan jembatan remaja dan anak-anak untuk saling bertemu dan berinteraksi dengan orang lain yang memiliki minat yang sama.

Namun, masih dilansir dari situs Kidshealth, tetap tak bisa diabaikan, media sosial juga memiliki dampak buruk, jika tak dimanfaatkan secara bijak. Tak jarang, remaja dan anak berperilaku buruk, ketika menggunakan kecanggihan teknologi ini.

Para ahli di Amerika pun mengungkap, media sosial dapat menjadi pusat bagi hal-hal seperti penindasan di dunia maya dan aktivitas yang patut dipertanyakan. Tanpa sadar, anak-anak bisa saja dengan mudah berbagi lebih banyak hal-hal negatif secara online daripada seharusnya.

Satu studi, bahkan menunjukkan bahwa sembilan dari 10 remaja memposting foto diri mereka secara online, atau menggunakan nama asli mereka di profil mereka, delapan dari 10 mengungkapkan, tanggal lahir dan minat mereka. Dan, tujuh dari 10 memposting nama sekolah mereka dan kota tempat mereka tinggal.

"Tindakan seperti ini bisa membuat anak menjadi sasaran empuk predator online dan orang lain yang mungkin ingin membahayakannya," kata seorang ahli.

Statistik tentang remaja ini benar-benar menyoroti bahaya media sosial. Dari survei yang dilakukan, 17 persen remaja mengatakan bahwa mereka telah dihubungi secara online oleh seseorang yang tidak mereka kenal dengan cara yang membuat mereka merasa takut, atau tidak nyaman.

30 persen remaja mengatakan, mereka telah menerima iklan online yang tidak sesuai untuk usia mereka dan 39 persen remaja mengaku berbohong tentang usia mereka untuk mendapatkan akses ke situs web.

Berikutnya, harus dikendalikan>>>