Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Sabtu, 15 Juli 2017 | 07:02 WIB
  • AKP Ocha, Polwan di Balik Penggerebekan 1 Ton Sabu

  • Oleh
    • Tasya Paramitha,
    • Zahrul Darmawan (Depok)
AKP Ocha, Polwan di Balik Penggerebekan 1 Ton Sabu
Photo :
  • VIVA.co.id/Zahrul Darmawan
Ajun Komisaris Polisi Rosana Labobar (Ocha).

VIVA.co.id – Keberhasilan Satgas Merah Putih dalam membongkar jaringan narkoba internasional dengan barang sitaan sebanyak satu ton sabu menuai banyak pujian dari khalayak umum. Namun, di balik itu semua, tentu ada sederet proses panjang yang tak hanya memakan waktu, tenaga dan energi, tapi juga mempertaruhkan nyawa.

Dari puluhan anggota Polri yang terlibat dalam operasi tersebut, salah satunya adalah polisi wanita (polwan). Dia adalah Ajun Komisaris Polisi Rosana Labobar.

Sebagai seorang wanita satu-satunya, Ocha, begitu ia biasa disapa, ternyata memiliki peran yang sangat penting dalam mengungkap kasus besar ini. Ia adalah satu-satunya polisi yang berada di garis terdepan, dengan jarak hanya sekitar 30 meter dari kawanan pelaku.

Lalu, seperti apa aksi heroik ibu satu anak ini?

Kepada VIVA.co.id, Ocha mengatakan bahwa ia telah mengikuti jejak para pelaku sejak tiba di bandara pada 6 Juni 2017. Saking fokusnya memburu sepak terjang pelaku, wanita yang menjabat sebagai wakil kepala Satuan Narkoba Polresta Depok itu pun terpaksa harus kehilangan banyak waktu bersama keluarga, termasuk buah hatinya yang baru berusia lima tahun.

“Saat itu saya hanya berpikir, semakin cepat saya mengungkap, semakin cepat pula saya berkumpul dengan keluarga. Saya dan tim berminggu-minggu melakukan pengintaian karena informasi yang kami terima tentang mereka sangat sedikit,” katanya Jumat, 14 Juli 2017.

Para pelaku ini bukanlah pemain narkoba amatir, namun merupakan adalah residivis asal Taiwan yang dipastikan kerap melakukan transaksi dalam jumlah besar.

“Nah, pada saat sehari sebelum penangkapan, Selasa, 11 Juli 2017 mereka bergerak ke Anyer itu siang. Kemudian diikutin dan mereka bermalam di sana. Nah, mereka ke pantai Mandalika dari 11 malam sampai jam lima subuh,” beber Ocha.

“Saya posisinya sudah dibagi. Kebetulan waktu malam pertama di Mandalika saya hanya berdua dengan anggota. Pas banget dapat mobilnya, kami mulailah merayap-rayap masuk ke semak-semak,” timpal wanita kelahiran 19 Oktober 1986 itu.

“Kami tungguin, baru satu mobil Innova. Enggak lama kemudian, anggota yang lain mau masuk, tapi ada dua mobil lain masuk, ada yang jaga di depan. Otomatis enggak ada anggota yang bisa masuk, jadi saya di sana hanya berdua dengan posisi tiarap,” tuturnya.

Saat itu, lanjut Ocha, dia yakin belum terjadi transaksi apa pun. Itu lantaran Ocha melihat para pelaku marah-marah dengan menggunakan bahasa Mandarin. “Kemudian mereka kembali ke hotel. Kita bisa sedikit istirahat sambil tetap mengawasi pergerakan mereka,” katanya.

Puncaknya, lanjut Ocha, terjadi pada malam berikutnya yakni Rabu, 12 Juli 2017. Saat itu, Ocha dan masing-masing anggota sudah bergerak pada posisi penyergapan. Sama seperti malam sebelumnya, Ocha pun kembali memilih semak-semak sebagai tempat pengintaian dengan posisi tiarap selama lebih dari empat jam.

“Saat itu bulan purnama terang. Saya enggak bisa duduk, saya hanya tiarap karena pasti terlihat kalau saya duduk. Soalnya kan itu tadi kondisinya terang bulan. Jarak saya dengan mereka hanya 30 meter. Saya paling depan dan sendiri saat itu,” tuturnya.

Nyaris Ditabrak

Saat mengintai gerak-gerik para pelaku, lanjut Ocha, dirinya mengandalkan teropong yang bisa melihat dalam kondisi kegelapan. “Setelah saya tunggu lebih dari empat jam, mereka akhirnya main kode lampu mobil ke arah pantai. Ada kapal kecil datang, perahu kecil lah kayak sampan, tapi ada mesinnya di belakang satu,” kenang Ocha.

Tak lama setelah itu, bunyi kapal ketika lampu mobil menyala menjadi kodenya. “Pas kelap kelip lampu ada yang lari. Saya parno kalau banyak gerak akhirnya akan terbongkar. Saya nunduk saja. Itu kan bibir pantai curam ke bawah. Jadi pengangkut barang pakai kapal kecil kayak sampan. Pada saat mereka teriak pakai bahasa China, kapalnya pergi, baru saya angkat kepala, saya lapor ke pimpinan,” ujarnya.

Di saat itulah, Akpol jebolan 2007 itu nyaris dihantam oleh pelaku yang berupaya menabraknya dengan mobil. “Untungnya saya tertolong karena lari ke pohon. Saat itu kondisi sudah kacau, semua senjata dikeluarkan,” ujarnya.

Perjuangan pun akhirnya membuahkan hasil. Satu dari empat pelaku tewas di lokasi kejadian, sementara tiga lainnya berhasil diringkus dengan kondisi selamat. Selain membekuk kawanan mafia internasional itu, dalam operasi ini penggawa Tri Brata itu juga berhasil menemukan sabu sebanyak satu ton.

Itu artinya, pasukan yang bergerak di bawah komando Kapolresta Depok, Kombes Herry Heryawan dan Diresnarkoba Polda Metro Jaya, Kombes Nico Afinta itu berhasil menyelamatkan lebih dari 10 juta nyawa.