Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Sabtu, 15 Juli 2017 | 16:46 WIB
  • Kisah Wanita Pengintai Penyelundupan 1 Ton Sabu

  • Oleh
    • Daurina Lestari,
    • Zahrul Darmawan (Depok)
Kisah Wanita Pengintai Penyelundupan 1 Ton Sabu
Photo :
  • VIVA.co.id/Zahrul Darmawan
Ajun Komisaris Polisi Rosana Labobar

VIVA.co.id – Sebagai satu-satunya polisi wanita yang terlibat dalam pengungkapan jaringan narkoba internasional sebanyak satu ton sabu, nama Ajun Komisaris Polisi Rosana Labobar belakangan ini ramai jadi perbincangan publik.

Dalam aksi tersebut Ocha ternyata adalah polisi yang berada di garis terdepan. Usut punya usut, Ocha ternyata juga sempat terlibat dalam kasus besar lainnya yang juga terkait dengan mafia narkoba internasional.

Berbekal pengalaman itu, wanita kelahiran Ambon 19 Oktober 1986 ini dipercaya untuk terlibat langsung dalam pengungkapan kasus penyelundupan satu ton sabu di pantai Anyer, Rabu malam 13 Juli 2017. Dia pun menceritakan pengalamannya melakukan operasi anti narkoba.

“Iya itu bukan yang pertama buat saya, dulu saya juga pernah terlibat dalam pengungkapan 135 sabu di Dadap, Tangerang dan dikembangkan ke Banten. Jadi untuk mengulang kembali saya tidak terlalu khawatir karena ada pengalaman yang sama,” katanya pada VIVA.co.id, Sabtu 15 Juli 2017.

Namun demikian, untuk yang kali ini Ocha jauh lebih puas sebab barang bukti yang ditemukan mencapai satu ton sabu. Itu artinya ada lebih dari 10 juta nyawa yang berhasil diselamatkan oleh Ocha bersama timnya yang tergabung dalam Satgas Merah Putih.

Ocha adalah satu-satunya polisi yang saat kejadian berada digaris terdepan dengan jarak sekitar 30 meter dari kawanan pelaku. Akpol jebolan 2017 itu pulalah yang menjadi mata dari pergerakan operasi senyap tersebut.  Ia rela tiarap empat jam di semak-semak, demi bisa mendekati para pelaku.

Meski demikian, Ocha jugalah wanita biasa. Rasa-rasa takut pun sempat ia alami manakala berhadapan langsung dengan pelaku kriminal. Lalu apa yang membuat Ocha berbuat nekat hingga akhirnya berada digaris terdepan?

“Semua itu karena motivasi, karena keyakinan kita akan mengungkap narkoba jaringan internasional ini. Karena itulah kami tekun, ulet. Bayangkan, kita harus mengikuti aktivitas mereka 24 jam, saya tidur di mobil di emperan jalan tapi itu semua demi Negara,” katanya.

Sebagai seorang wanita, yang memiliki satu orang anak dengan usia yang baru lima tahun, wanita yang menjabat sebagai wakil kepala Satuan Narkoba Polresta Depok itu pun tak menampik jika dirinya kerap dilanda rasa rindu.

“Tentu rasa kangen sama keluarga pasti ada, tapi dengan motivasi ini, dengan cepat ngungkap artinya akan cepat pulang juga, itu yang jadi motivasi saya. Ya tentu saja dilema, karena saya perempuan dan saya punya anak, tapi di satu pihak saya abdi negara,” ujarnya

“Saat saya pulang saya kasih pengertian ke anak, kalau ibunya sedang kerja keras di luar sana,” ujarnya Ocha lagi dengan mata berkaca-kaca.

Seperti diberitakan sebelumnya, jaringan narkoba asal Taiwan itu berhasil dibekuk Satgas Merah Putih di bawah komando Kapolresta Depok, Kombes Herry Heryawan, bersama Diresnarkoba Polda Metro Jaya, Kombes Nico Afinta dengan barang bukti sebanyak satu ton sabu. Penangkapan ini berlangsung di kawasan Anyer, Banten, Rabu malam, 13 Juli 2017.

Dalam peristiwa itu, satu tersangka tewas ditempat akibat melakukan perlawanan sementara tiga rekannya berhasil dilumpuhkan dalam keadaan selamat. Dalam aksinya, komplotan ini menggunakan jalur laut menggunakan perahu. (mus)