Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Kamis, 10 Agustus 2017 | 13:23 WIB
  • Terabaikan, 72 Siswa SMAN 10 Bekasi Numpang di Sekolah Lain

  • Oleh
    • Lis Yuliawati,
    • Dani (Bekasi)
Terabaikan, 72 Siswa SMAN 10 Bekasi Numpang di Sekolah Lain
Photo :
  • VIVAnews/Maryadie
Ilustrasi siswa SMA

VIVA.co.id – Sejumlah 72 siswa SMAN 10 Medansatria, Kota Bekasi tak kunjung melakukan kegiatan belajar mengajar. Mereka hanya datang lalu pulang sekolah tanpa mendapat pelajaran dari guru.

"Kami sudah bosan dengan kondisi seperti ini. Hanya ngobrol saja kami di kelas," kata Tasya Anggi, seorang siswa kelas X, SMAN 10, Medansatria, Kota Bekasi.

Tasya merupakan satu dari 72 siswa SMAN 10 yang terpaksa belajar di SMK Yaperti, Medansatria Kota Bekasi. Nasib puluhan siswa itu terkatung-katung setelah Pemerintah Provinsi Jawa Barat menolak tambahan siswa yang dilakukan Pemerintah Kota Bekasi.

Pemerintah Kota Bekasi menambah rombongan belajar hanya untuk jalur zonasi atau jalur lingkungan, dari 10 kelas menjadi 12 kelas. Alasan pemerintah daerah menambah siswa baru karena warga setempat banyak yang belum mendapat kursi di SMAN 10. 

Saat ini, SMAN 10 hanya menampung 360 siswa dengan jumlah ruang kelas 10 ruangan. Sesuai anjuran Pemerintah Provinsi Jawa Barat, setiap ruangan diisi sebanyak 36 siswa. 

Tasya sengaja memilih sekolah di SMAN 10 karena jaraknya berdekatan dengan rumah dan biaya untuk keperluan sekolah negeri sangat ringan. "Jadi tidak terlalu membebani orangtua kalau sekolah di sini," ujarnya.

Namun kini Tasya bingung. Dia mengaku khawatir tertinggal pelajaran. Sebab, guru yang mengajar hanya memakai jasa tenaga relawan. Apalagi, ujian tengah semester bakal  segera dilaksanakan.

Sementara itu, Ketua Perkumpulan Orangtua Siswa SMAN 10, Fani Plonto mengatakan, seluruh siswa menumpang ke SMK Yaperti sejak 24 Juli 2017.  

Bahkan, kesepakatan yang dibuat pada pertemuan Senin, 7 Agustus 2017 itu, untuk memulai pelajaran dari pihak sekolah tidak terlaksana. "Seluruh siswa masuk memanfaatkan jalur zonasi," ujarnya

Fani mengaku, 72 siswa yang sekarang nasibnya terkatung-katung itu sudah dibebankan biaya atribut sekolah sebesar Rp400 ribu. "Setelah itu siswa dipindahkan karena ruang kelas tidak ada. Kemudian gurunya tidak mau mengajar," ujarnya.