Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Jumat, 11 Agustus 2017 | 18:03 WIB
  • Setor Uang, Calon Jemaah Cium Gelagat Tak Baik First Travel

  • Oleh
    • Lis Yuliawati,
    • Eduward Ambarita
Setor Uang, Calon Jemaah Cium Gelagat Tak Baik First Travel
Photo :
  • VIVA.co.id/ Eduward Ambarita
Pengumuman di gedung kantor First Travel, Jumat, 11 Agustus 2017.

VIVA.co.id – Widodo Basuki, salah satu calon jemaah First Travel, mencium gelagat tak baik dari biro perjalanan itu sejak menyetorkan uang untuk ibadah umrah. 

Sebab, dari tarif promo yang dijanjikan kepadanya, ternyata pihak First Travel meminta biaya tambahan untuk penambahan fasilitas lain. "Ini katanya kan suami istri bayar double. Tambah Rp2 juta biar satu kamar," kata Widodo di gedung Green Tower, Jalan T.B Simatupang, Jakarta Selatan, Jumat, 11 Agustus 2017. 

Widodo pun menyanggupi biaya itu karena sang istri bakal turut berangkat dengannya. Ia dijanjikan berangkat umrah dari pada November 2016 namun hingga kini belum mendapat kepastian. 

Rencananya, Widodo bakal berangkat bersama enam anggota keluarga lainnya dari Surabaya, Jawa Timur.  "Dijanjikan lagi berangkat bulan puasa (tahun ini). Setelah puasa mundur, tidak diberangkatin juga. Tidak ada pemberitahuan," ujarnya. 

Sebelum bulan puasa itu, ia sempat dimintai pembayaran tambahan sebesar Rp2 juta agar perjalanannya itu bisa dipercepat. Jika ditotal, Widodo telah menyerahkan uang Rp20 juta ke First Travel. 

Ternyata, setelah uang masuk, jadwal keberangkatan tak kunjung didapat. "Kami curiga makanya saya minta refund (pengembalian) di bulan Juni. Sampai sekarang tidak bisa," ujar Widodo. 

Dia mendaftar umrah di cabang kantor First Travel di Jalan Radar Auri, Depok. Namun lantaran kantor cabang tak menerima keluhan calon jemaah, ada imbauan untuk mengadu ke kantor pusat di Gedung Green Tower. 

Menurut warga Ciganjur ini, tiga hari lalu dia sempat menyambangi kantor pusat tersebut untuk menagih hak-haknya. Namun, ia justru ditawari untuk berangkat September ini. "Saya malah ditawarin sampai saya marahin. Katanya bulan September berangkat. Pikir ini musim haji, mana ada orang umrah musim haji. Saya bilang gitu," ujarnya. 

Terkait kasus ini, Widodo mendesak kepada pemerintah agar dibuatkan crisis center bagi calon jemaah yang ingin mengadu. Sebab, menurut dia, calon jemaah yang tertipu merasa tak terfasilitasi.