Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Senin, 11 September 2017 | 17:49 WIB
  • Kasus Bayi Debora, Kata IDI Bukan Sepenuhnya Salah Dokter

  • Oleh
    • Rochimawati,
    • Isra Berlian
Kasus Bayi Debora, Kata IDI Bukan Sepenuhnya Salah Dokter
Photo :
  • VIVA.co.id/M. Yudha Prasetya
Klarifikasi RS Mitra Keluarga atas meninggalnya bayi Debora.

VIVA.co.id – Ketua Dewan Pakar Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia, Prof Abdul Razak Thaha, menyebut meninggalnya bayi Debora di rumah sakit Mitra Keluarga tidak semuanya kesalahan dokter.

Ia menjelaskan, tindakan dokter selain berdasarkan pada sumpah dokter tapi juga terikat dengan kebijakan manajemen rumah sakit. 

Dalam kasus yang menimpa bayi malang Tiara Debora yang meninggal pada Minggu 3 September 2017 di RS Mitra Keluarga, Kalideres disinyalir akibat tidak menerima penanganan medis karena tidak mencukupinya uang muka perawatan dari orangtua bayi tersebut.

"Yang pertama saya mau menyampaikan bahwa ada perlakuan tidak adil terhadap dokter. Persoalan bayi Debora itu bukan persoalan kesalahan dari dokter, tapi dilimpahkan ke dokter," kata Abdul Razak saat ditemui di Kantor PB IDI di Kawasan Menteng Jakarta Pusat, Senin 11 September 2017. 

Menurutnya,  apabila ada dokter yang ingin melaksanakan tugasnya namun dibatasi oleh peraturan manajemen (terkait tidak bisa melakukan tindakan terhadap pasien yang memang berada dalam lingkup pasien BPJS) ini akan sangat sulit pula bagi dokter tersebut dalam menjalankan tugasnya. 

"Dokternya melakukan tapi ditahan oleh ini (manajemen). Tapi di masyarakat yang dipersalahkan kembali lagi para dokter. Yang benar harusnya ada regulasi yang mengatur secara tegas, dan law enforcement yang jelas,"  tuturnya. 

Terkait dengan sudah sejauh mana penegakan hukum (law enforcement) undang-undang rumah sakit, Abdul Razak mengutarakan bahwa peraturan dan perundang-undangan rumah sakit jelas sekali, kalau ada seseorang yang dalam keadaan gawat darurat, dilakukan penanganan dulu. 

Ia menambahkan, ketika berbicara dengan tata kelola dan sumpah dokter, sikap yang harus diambil dokter, dia pun mengaku para dokter akan sulit menentukan sikap. 

"Tapi dari manusiawinya saya bertanya, Anda memilih mempertahankan idealisme dan dipecat? Kalau yang idealis dia tidak peduli tapi kalau dia tahan di situ kan juga enggak bisa menggunakan fasilitas yang ada. Dan itu keluhan dari pada dokter sebenarnya. Dokter enggak bisa menolong dalam kondisi seperti itu. Yang sebenarnya ya, dia ingin menolong,” tutur dia. 

Razak menjelaskan, ketika dokter itu memilih untuk bersikap idealis dan berhenti bekerja, pun akan menimbulkan masalah baru lagi.  "Tapi kalau berhenti, mau kerja di mana? Anaknya mau dikasih makan apa?  Kuncinya pembuat regulasi dan pengawas yang benar. Itu saja.  Kita akan mendukung itu, asal dilakukan dengan hati,"  ujarnya.