Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Rabu, 13 September 2017 | 00:28 WIB
  • Makam Dibongkar, Jasad Abi Korban Persekusi Tak Bau Busuk

  • Oleh
    • Dusep Malik,
    • Foe Peace Simbolon
Makam Dibongkar, Jasad Abi Korban Persekusi Tak Bau Busuk
Photo :
  • ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat
Ilustrasi/Proses autopsi korban penganiayaan.

VIVA.co.id – Makam Abi Qowi Suparto (20 tahun) di Tempat Pemakaman Umum Karet Bivak, Tanah Abang, Jakarta Pusat terpaksa dibongkar Selasa sore 12 September 2017.

Hal tak wajar ini bukan tanpa alasan dilakukan. Penyidik dari Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya didampingi tim kedokteran forensik dari Rumah Sakit Polri melakukan hal tersebut guna mengautopsi jasad Abi.

Sebab, Abi diduga meniggal dunia karena dipersekusi serta dianiaya tujuh orang pemuda lantaran ia dituduh mencuri rokok elektrik (vape) dari salah satu outlet vape di bilangan Tebet, Jakarta Selatan, yakni Rumah Tua Vape.

Setidaknya, dalam kesempatan membongkar makam Abi yang baru berusia sepuluh hari sejak 3 September lalu itu, ada sebanyak 12 petugas penggali kubur yang turun untuk membongkar makamnya.

Salah satu diantara mereka bernama Joni (58 tahun). Selama 27 tahun bekerja sebagai tukang gali kubur, baru dua kali ia disuruh menggali makam bukan menguburkan.

Terakhir kali hal itu ia lakukan sekitar tahun 90-an. Meski tak ingat persis kapan tahunnya, ia ingat betul pernah menggali kubur yang sudah rata dengan tanah untuk kepentingan serupa seperti yang ia lakukan hari ini, yakni untuk kepentingan autopsi kepolisian.

"Sudah dua kali gali kubur seperti ini bukan nguburin tapi gali kubur yang sudah rata sama tanah," ucap dia saat ditemui di TPU Karet Bivak, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Selasa 12 September 2017.

Ayah tiga anak itu mengaku sebenarnya hati dia tak ingin menggali kubur seseorang yang telah rata dengan tanah. Namun, ia tetap profesional dengan pekerjaannya sebagai seorang tukang gali kubur.

"Kalau buat saya pribadi, walaupun enggak mau namanya tugas ya harus dilakuin. Ya saya enggak tega dia (Abi) sudah dikubur diangkat lagi," katanya.

Joni pun menyebut baru tahu kalau Abi meninggal karena diduga dianiaya hari ini. Tahu Abi meninggal dengan tidak wajar, ia sempat ingin melihat jasad Abi ketika ikut diangkat kembali keluar dari liang lahat.

Namun, hal itu ternyata tidak diperbolehkan oleh pihak kepolisian yang ada di sana. Alhasil, dia bersama dengan dua temannya yang bertugas mengangkat jasad Abi dari liang lahat hanya dapat melihat jasad Abi yang masih dibaluti kain kafan.

"Itu kan mayatnya ditutup kain kafan kami tidak lihat, tidak lihat untuk luka apa-apanya karena semuanya tertutup. Tugas kami untuk angkat saja, setelah itu disuruh keluar sama tim forensiknya, jadi kami enggak tahu keadaan jenazah seperti apa, kami enggak tahu. Itu ketutup semua dengan kain kafan," ujar Joni menjelaskan.

Joni mengatakan, tidak ada kendala berarti ketika ia bersama dengan teman-temannya yang lain bertugas membongkar kembali makam Abi. Menurutnya, pembongkaran berjalan dengan lancar tanpa ada gangguan berarti.

Tanah makam Abi, kata dia, masih mudah untuk digali kembali mengingat belum terlalu lama umur makamnya. Selain itu, jasad Abi pun masih bisa dengan mudah ditemukan di dalam liang lahat karena belum hancur sedemikian rupa seperti jasad yang telah dikubur belasan tahun.

Meski sempat ada rasa takut ditugaskan untuk menggali kembali makam seseorang yang telah meninggal dunia, pada akhirnya Joni memberanikan diri menerima hal itu karena memang sudah jadi risiko pekerjaannya. Tapi, meski begitu, sebelum melakukan hal itu, dia bukan tidak mempersiapkan diri.

Agar tugasnya dimudahkan tanpa adanya gangguan, Joni bersama dengan rekannya yang lain sebelum menggali kubur Abi memanjatkan doa pada Tuhan Yang Maha Esa agar pekerjaan yang dilakukan itu bisa berjalan lancar.

"Kalau niat pasti ada supaya dilancarin. Apalagi ini bongkar supaya enggak terjadi hal-hal yang aneh, tadi kami enggak pakai masker. Enggak kebauan (bau busuk). Kita kan selalu berdoa agar lancar ini," katanya.

Untuk diketahui, Abi Qowi Suparto tewas setelah dipersekusi pegawai Rumah Tua Vape, Tebet, Jakarta Selatan, karena dituduh mencuri vape di outlet itu. Abi yang berusia 22 tahun, tewas dianiaya tujuh pegawai Rumah Tua Vape Tebet di sebuah outlet vape di kawasan Pejompongan, Tanah Abang, Jakarta Pusat

Menurut Kepala Sub Direktorat Kejahatan dan Kekerasan Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, AKBP Hendy F Kurniawan, korban tewas pada 3 September 2017. Abi dipersekusi pelaku karena diduga mencuri rokok elektrik di toko itu.

Para pegawai itu tidak melapor ke polisi, tapi malah berupaya memburu Abi dengan cara menyebar identitas Abi serta fotonya ke media sosial. Hingga akhirnya pada 28 Agustus 2017, Abi ditemukan dan dibawa para pelaku ke lokasi penganiayaan di Pejompongan. Di tempat itu Abi dikeroyok hingga sekarat.