Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Sabtu, 16 September 2017 | 13:18 WIB
  • Kebohongan Libatkan Anak Viral di Medsos, Apa Motifnya?

  • Oleh
    • Lis Yuliawati,
    • Anwar Sadat
Kebohongan Libatkan Anak Viral di Medsos, Apa Motifnya?
Photo :
  • www.pixabay.com/geralt
Ilustrasi media sosial

VIVA.co.id – Pengakuan PI, siswi sebuah sekolah dasar di Tanjung Duren, Jakarta Barat yang menyebut menjadi korban upaya penculikan, sempat menjadi viral di media sosial, beberapa hari terakhir ini. Namun ternyata, pengakuan itu bohong belaka.

Sebelum itu, kabar seorang bocah berinisial AAS yang disebutkan harus menjual es keliling untuk biaya hidup lantaran kedua orangtuanya telah meninggal, sempat menjadi viral di media sosial, akhir Agustus 2017. Ternyata, hal tersebut tak sesuai kenyataan.

Menilik dari kabar-kabar yang sempat viral di media sosial dan melibatkan anak-anak, namun ternyata tak benar itu, apa kemungkinan motifnya?

Sosiolog dari Universitas Ibnu Chaldun, Musni Umar menilai, hal itu  merupakan pola perubahan tingkah laku yang terjadi di masyarakat Indonesia. Di mana orang kerap mengumbar kebohongan dengan berbagai tujuan, seperti mendapatkan popularitas atau uang.

"Yang negatif seperti contohnya kebohongan ini. Orang itu melakukan tindakan tidak benar seperti membuat kebohongan. Tetapi yang harus kita perhatikan apa motifnya? Yang pertama bisa saja motifnya untuk mendapatkan keuntungan pribadi seperti materi. Untuk mendapatkan keuntungan pribadi dia berani berbohong," kata Musni kepada VIVA.co.id, Jumat, 15 September 2017 malam.

Menurut Musni, rangkaian kebohongan tersebut dipengaruhi cara pandang masyarakat yang mulai menilai segala sesuatu berdasarkan dengan materi. Akibatnya, seseorang kerap melakukan tindakan yang tidak benar hanya untuk memperoleh penghargaan atau pun pengakuan dari orang lain.

"Kondisi seperti ini mendorong orang untuk berperilaku yang tidak pantas dilakukan dalam rangka mendapatkan keuntungan materi, apa itu langsung atau tidak langsung, itu yang saat ini tumbuh di masyarakat kita," ujarnya.

Untuk mencegah terjadi kebohongan, menurut dia, dibutuhkan kesadaran orangtua untuk terus hadir dan berkomunikasi pada anak. Orangtua diharapkan mampu menanamkan nilai-nilai kejujuran pada anak sejak dini.

"Bagaimana membangun hubungan dengan anak-anak kita kemudian mengajarkan anak-anak kita, lingkungan kita, berkata yang benar, ciptakan sesuatu yang benar, dan katakan sesuatu yang benar walaupun pahit," ujarnya.