Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Sabtu, 7 Oktober 2017 | 14:17 WIB
  • Gubernur DKI Resmikan Jalan Khusus Anak-anak Bersekolah

  • Oleh
    • Lazuardhi Utama,
    • Bayu Nugraha
Gubernur DKI Resmikan Jalan Khusus Anak-anak Bersekolah
Photo :
  • VIVA.co.id/Bayu Nugraha
Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat meresmikan Jalan untuk Akses Pelajar.

VIVA.co.id – Dalam rangka memberikan akses jalan untuk warga, Pemerintah Kota Jakarta Pusat membangun jalan tembus yang menghubungkan jalan Suryapranoto dan Hasyim Ashyari.

Jalan sepanjang kurang lebih 600 meter ini diberikan nama Jalan Sekolah oleh Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat.

Dengan membuka kain plang jalan dan memotong pita, Djarot pun meresmikan jalan tersebut. Menurutnya, adanya jalan tembus ini sangat membantu anak-anak untuk akses sekolah.

"Saya waktu menamakan nama jalan ini saya tanya itu jalan buat apa biasanya. Dibilang jalan buat anak sekolah pak. Lalu, simple aja saya bilang ya sudah namakan jalan sekolah," kata Djarot di lokasi, Sabtu 7 Oktober 2017.

Untuk proses pembangunan sendiri, jalan ini dibangun dalam dua tahap. Pertama pada 2016 dan kedua dilanjutkan tahun ini.

Dengan adanya jalan tersebut, ia pun berharap anak-anak tidak lagi kesusahan untuk mencapai ke sekolah. Sebab, dari laporan yang ia dapat anak-anak susah dapat akses menuju ke sekolah sebelum ada jalan tersebut.

"Bagus kan, yang menikmati adalah anak-anak kita juga yang sudah puluhan tahun dibiarkan begitu saja. tapi dengan inisiatif kepala sekolah, cepet kita selesaikan," ujarnya.

Ia pun menyinggung, dengan adanya normalisasi jalan tersebut banyak manfaat yang saat ini diterima.

Hal itu untuk membantah bahwa dirinya bersama Gubernur DKI Jakarta sebelumya, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang disebut tak manusiawi melakukan penggusuran.

"Selama ini kan saya dan pak Ahok dibilang tukang gusur tak manusiawi. Kalau kita adakan normalisasi, penertiban kok kita dianggap gak manusiawi. Kalau dibiarkan baru tak manusiawi," ujarnya.

Djarot melanjutkan, seharusnya tegas mana yang melanggar karena yang menjadi korban adalah anak-anak.

"Bagaimana susahnya anak-anak kita berangkat sekolah, karena jalannya cuma satu. Lewati WC umum, lewati dapur, sungai. Siapa yang mau yang sekolah di sini," katanya.