Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Sabtu, 14 Oktober 2017 | 06:08 WIB
  • Cerita Pamdal Balai Kota Soal Tiga Gubernur Era Berbeda

  • Oleh
    • Tasya Paramitha,
    • Eduward Ambarita
Cerita Pamdal Balai Kota Soal Tiga Gubernur Era Berbeda
Photo :
  • VIVA.co.id/Eduward Ambarita
Sumarna, petugas pengamanan dalam (Pamdal) Balai Kota.

VIVA.co.id – Jelang pergantian gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta, berbagai cerita menarik dikisahkan staf pengamanan dalam Balai Kota selama bertugas. Pada Periode 2012-2017, ibu kota dipimpin tiga orang gubernur dengan latar kondisi transisi berbeda.

Sumarna, salah satu petugas pengamanan dalam (Pamdal) Balai Kota, menceritakan pengalamannya ketika bertugas melayani gubernur.

Kerap bertugas 'membuka' pintu gubernur, ketika keluar atau masuk dari Balai Kota, banyak momen yang dibagikan Sumarno saat bertugas mulai dari Gubernur Joko Widodo berganti Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) hingga yang terakhir Djarot Saiful Hidayat.

"Kalau pak Jokowi, karakternya kelihatan lemah lembut. Tetapi, sekali ngomong ngena," kata Sumarna, ketika berbincang dengan VIVA.co.id di Pendopo Balai Kota, Jakarta, Jumat 13 Oktober 2017.

Tak banyak diceritakan Sumarna mengenai Jokowi, atau pun Djarot. Sebagai penjaga keamanan di kantor gubernur, dia terlihat sulit menghilangkan momen ketika Jakarta dipimpin Ahok. Sebab, Jokowi tidak begitu lama menghabiskan waktu kerjanya di Balai Kota. Begitu pula dengan Djarot, yang menggunakan ruangan lamanya di lantai dua.

Ahok, menurut Sumarna, adalah pribadi yang tegas dan tanpa kompromi. Hal itu dilihatnya, ketika menemui masyarakat di Balai Kota dan wawancara dengan media. "Artinya, susah dibelokkan, pendiriannya kuat," kata dia.

Tidak hanya itu, soal waktu, Ahok pun dinilai sebagai orang yang giat bekerja sampai larut malam. Dalam pengamatannya, Ahok tidak mengenal waktu baik itu saat melayani tamu, rapat hingga membereskan pekerjaannya di ruangan.

Dia pun terkadang sampai kelimpungan mengingatkan Ahok mengenai agenda lain, karena Ahok kerap lupa batas waktu.

"Soal jam kerja sudah tidak yang kalahin pak Ahok itu. Orangnya kan on time, datang pagi pulang malam. Hampir tiap hari pulang malam. Itu pun juga masih ada surat yang belum dikerjain dibawa pulang. Saya tunggu sampai malam," kata Sumarna, yang telah menjadi petugas Pamdal sejak era Gubernur Soerjadi Soedirja.

"Tetapi, saya maklumin waktu beliau satu menit sangat berharga. Makan saja sambil kerja, atau sambil bertemu siapa. Tidak pernah lihat beliau istirahat,” ujarnya.

Selain Sumarna, petugas keamanan lain, yakni Bripka Ahmad Humaini hampir punya cerita serupa. Ahmad yang merupakan anggota Kepolisian dari Direktorat Pam Obvit Polda Metro Jaya, sudah hampir setahun bertugas di Balai Kota.

Mengalami berjaga di Balai Kota di bawah kepemimpinan Ahok dan Djarot, banyak pelajaran dipetik tentang disiplin waktu dan melayani masyarakat.

Memberikan rasa aman dari tindak kejahatan, dirinya harus terus waspada terhadap orang yang masuk dan keluar. Sebab, kantor gubernur yang begitu terbuka untuk masyarakat bisa saja disusupi oleh pihak-pihak yang hendak berlaku jahat.

"Kalau sisi pengaman juga ketar ketir. Mana tahu ada penyusup yang ingin melukai pak Ahok. Tetapi, di satu sisi pak Ahok secara terbuka dengan masyarakat dan menanggapi semua," ujar Ahmad.