Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Kamis, 2 November 2017 | 00:31 WIB
  • Kisah Anggi Berjalan Dalam Kobaran Api Tragedi Gudang Mercon

  • Oleh
    • Bayu Adi Wicaksono,
    • Sherly (Tangerang)
Kisah Anggi Berjalan Dalam Kobaran Api Tragedi Gudang Mercon
Photo :
Anggi saat ditemui di RSU Tangerang.

VIVA – Masih banyak cerita tersisa dari tragedi meledak dan terbakarnya pabrik dan gudang mercon milik PT Panca Buana Cahaya Sukses di Kompleks Pergudangan 99, Kosambi, Kabupaten Tangerang, Banten.

Salah satunya kisah tentang seorang remaja bernama Anggi, pekerja pabrik mercon yang terpaksa berjalan di dalam kobaran api hanya demi menyelamatkan nyawanya.

Saat ditemui VIVA.co.id, di Rumah Sakit Umum Tangerang, remaja berusia 18 tahun itu menceritakan semua kejadian mengerikan yang dilaluinya untuk lolos dari maut.

Menurut Anggi, saat itu tepat pukul 08.45 WIB, dia sedang mengerjakan peracikan bahan mercon atau kembang api. Tugas itu dilakukannya hanya berjarak sekitar 10 meter dari gudang bahan baku mercon yang meledak.

"Saat itu saya sedang duduk sambil mengayak obat kembang api, tiba-tiba saja saya dengar suara ledakan dari tempat las. Lokasi saya mengayak dan tempat las itu ada 10 meter. Lalu setelah ledakan, saya lihat api membesar ke atas lalu menyebar ke area pabrik," katanya di ruang perawatan Dahlia, RSU Kabupaten Tangerang, Rabu, 1 November 2017.

Saat kobaran api membesar, Anggi melihat masih banyak pekerja yang masih berada di dalam pabrik. Tapi pekerja sudah mulai berlarian menyelamatkan diri. Melihat kondisi itu, Anggi tak lagi berpikir untuk bertahan di dalam pabrik. "Saat itu pokoknya saya harus keluar, enggak mikir gimana-gimana. Walau api waktu itu besar banget," katanya.

Anggi menuturkan, tak ada jalan keluar selain gerbang utama pabrik. Tapi, dari dalam pabrik gerbang sudah tak terlihat lagi karena tertutup api dan asap hitam, ditambah ledakan terus terjadi. Karena memang lokasi utama ledakan berada di gudang dekat pintu keluar.

Akhirnya, remaja asal Tegal, Jawa Tengah ini memilih untuk nekat menerobos masuk ke dalam kobaran api yang menutupi akses ke pintu keluar. "Saya yang penting bisa keluar, saya terobos saja apinya. Walaupun ujung-ujungnya saya kebakar tapi saya bisa keluar. Di belakang saya masih banyak yang kejebak apalagi perempuan," ujarnya.

Dengan bersusah payah, akhirnya Anggi bisa keluar. Walaupun sekujur tubuhnya terbakar hebat hingga mengakibatkan luka bakar hingga 30 persen. "Wajah, tangan, badan dan kaki saya terbakar, panas banget rasanya," kata Anggi.

Anggi mengatakan, dia baru tiga bulan bekerja di pabrik mercon itu. Sebelumnya lokasi itu hanya gudang penyimpanan kembang api saja. Dia bekerja di pabrik itu bersama dua kakak kandungnya, Deni dan Muhammad Taneri.

"Kalau saya hitungannya karyawan, diupah 58 ribu per hari, kalau yang borongan itu 40 ribu. Saya di sini kerja dari yang tadinya cuma gudang sampai jadi pabrik. Saya kerja sama kakak saya dan semua kena jadi korban. Yang satu itu Muhammad Taneri jadi korban luka tapi, kakak saya Deni meninggal," kata Anggi.

Anggi yang merupakan putra kelima pasangan Yanto dan Sofiyah itu, mengaku diajak sang kakak untuk bekerja di tempat itu. Tanpa bekal ijazah dan yang lain, dia diterima sebagai pembuat obat kembang api. "Belum tahu (mau apa), tapi kalau sudah diizinkan pulang, saya mau pulang kampung ke Tegal dulu," katanya.

Seperti diketahui, tragedi itu terjadi pada Kamis, 26 Oktober 2017. Lebih dari 47 pekerja meninggal dunia dan puluhan lainnya menderita luka bakar. (mus)