Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Selasa, 7 November 2017 | 06:30 WIB
  • Ujung Kontroversi Sidang Paripurna Jakarta

  • Oleh
    • Lis Yuliawati,
    • Eduward Ambarita,
    • Anwar Sadat,
    • Ade Alfath
Ujung Kontroversi Sidang Paripurna Jakarta
Photo :
  • Fajar GM - VIVA.co.id
Ilustrasi Sidang Paripurna DPRD.

VIVA – Rencana Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan-Sandiaga Uno, menyampaikan visi misinya di depan anggota DPRD DKI Jakarta, akan segera terwujud.  

Keduanya direncanakan menyampaikan visi dan misinya di Gedung DPRD DKI, usai pelaksanaan rapat paripurna APBD DKI 2018, Rabu, 15 November 2017 mendatang.

Rencana tersebut akhirnya disepakati setelah keduanya bertemu dengan Ketua DPRD DKI Jakarta Prasetyo Edi Marsudi, di rumah dinas Pras, sapaan Prasetyo, di kawasan Menteng, Jakarta, Senin, 6 November 2017.   "Rapat paripurna APBD tanggal 15 November, Pak Anies dan Pak Sandi akan membacakan visi misinya setelah pertanggungjawaban masalah APBD," kata Prasetyo. 

Penyampaian visi misi bakal digelar setelah Anies-Sandi menjabat sekitar satu bulan, sejak dilantik pada 16 Oktober 2017. Awalnya, Ketua Tim Komunikasi Anies-Sandi, Naufal Firman Yursak, menyebutkan Anies dijadwalkan  memberikan pidato politik pertamanya, di dalam sidang paripurna DPRD DKI Jakarta, beberapa saat setelah dilantik. 

Namun, agenda pidato Anies urung dilakukan. Rencana sidang paripurna istimewa tak jadi digelar lantaran belum diagendakan di DPRD DKI Jakarta. Sidang paripurna lantas dikabarkan akan dilaksanakan pada Rabu, 18 Oktober 2017. Namun, rencana itu batal dihelat karena DPRD DKI ternyata belum mengagendakan sidang tersebut secara resmi.

Oktober lalu, Prasetyo menyebutkan, agenda mendengarkan pidato Anies di sidang paripurna istimewa dinilai tidak wajib dilakukan.  Kegiatan tersebut bisa saja terlaksana dengan mengikuti jadwal yang sudah ada tanpa perlu secara khusus disiapkan. 

Adapun Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Abraham Lunggana menduga, Prasetyo masih menyimpan ego politiknya sewaktu Pilkada DKI karena tak terima calon yang diusungnya kalah. Posisi Prasetyo sebagai mantan Ketua Tim Pemenangan pasangan Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok dan Djarot Saiful Hidayat disebut menjadi muara belum diwacanakan paripurna tersebut.

"Dia (Prasetyo) enggak sadar kalau ini adalah yang terpilih gubernur Jakarta, coba kalau yang terpilih orang dia? Dia bikin (acara) besar-besaran," kata Lulung, Rabu, 18 Oktober 2017.

Sandiaga menginginkan adanya paripurna lantaran dapat dijadikan wadah  silaturahmi, agar hubungan antara eksekutif dan legislatif dapat berjalan harmonis selama lima tahun ke depan. Sandiaga sadar dia merupakan pejabat baru. Sementara Prasetyo lebih dahulu berkecimpung di DPRD DKI. “Kami tidak ingin berpolemik begitu Pak Pras sediakan waktu, kami datang. Tidak perlu Paripurna dan lain-lain, namanya juga silaturahmi," ujarnya, Selasa, 24 Oktober 2017.

Kini, Pras telah setuju Anies-Sandi akan menyampaikan visi misinya di depan DPRD DKI. Menurut Pras, hubungan antara dewan dan eksekutif tak ada masalah. Pihaknya akan bekerja sama dengan pemerintahan Anies-Sandi. "Pertarungan Pilkada sudah selesai. Saya wajib menjaga pak Anies dan pak Sandi," kata Pras, Senin, 6 November 2017.