Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Kamis, 9 November 2017 | 10:52 WIB
  • Jelang Aksi 10 November, Laskar Buruh Bergerak ke Jakarta

  • Oleh
    • Lis Yuliawati,
    • Ade Alfath
Jelang Aksi 10 November, Laskar Buruh Bergerak ke Jakarta
Photo :
  • Foe Peace
Ilustrasi demo buruh di Jakarta.

VIVA – Ratusan aktivis buruh yang tergabung dalam Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) melakukan long march dari berbagai kabupaten/ kota menuju Jakarta. Mereka akan mengikuti aksi unjuk rasa di Istana Negara dan Balai Kota, bertepatan dengan Hari Pahlawan, Jumat, 10 November 2017. 

"Long march ini adalah salah satu ikhtiar kami dari kaum buruh karena upaya yang kami lakukan dengan melakukan dialog sosial dan berkomunikasi dengan pemerintah tidak mendapatkan respons yang baik," kata Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI), Riden Hatam Azis dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Kamis, 9 November 2017. 

Menurut Riden, ada tiga kelompok buruh yang melakukan long march. Mereka berangkat dari tiga titik berbeda. Titik pertama yaitu peserta long march berangkat dari Bandung. Peserta merupakan buruh dari Bandung,  Cianjur, Subang, Cirebon, Purwakarta, Karawang, Bekasi, Jakarta. Para buruh yang berangkat dari Bandung ini berjumlah sekitar 100 orang dan disebut sebagai Laskar Marsinah.

Kemudian kelompok kedua berangkat dari Bogor, yang diikuti para buruh dari Sukabumi, Bogor, dan Depok. Kelompok ini disebut sebagai Laskar Sebastian. Sedangkan kelompok ketiga disebut sebagai Laskar Suryo Pranoto. Kelompok ini merupakan perwakilan buruh dari Cilegon, Serang, dan Tanggerang. 

Laskar Sebastian dan Laskar Suryo Pranoto berangkat hari ini. Sesampainya di Jakarta, peserta long march akan bergabung dengan puluhan ribu buruh yang melakukan aksi bertepatan dengan Hari Pahlawan, 10 November 2017. 

Sebelumnya, Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal mengatakan, sekitar 20 ribu buruh akan melakukan aksi unjuk rasa di Istana Negara dan Balai Kota DKI Jakarta, pada 10 November 2017. Aksi ini mengusung isu cabut mandat Gubernur dan Wakil Gubernur pembohong, menolak upah minimum berdasarkan PP 78/2015 dan menuntut revisi, serta turunkan harga sembako, listrik, dan lainnya. (mus)