Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Jumat, 10 November 2017 | 05:04 WIB
  • Perilaku Aneh Dokter Helmi Setelah Tembak Mati Dokter Lety

  • Oleh
    • Eko Priliawito,
    • Foe Peace Simbolon
Perilaku Aneh Dokter Helmi Setelah Tembak Mati Dokter Lety
Photo :
  • istimewa
Dokter Helmi, pelaku pembunuhan terhadap dokter Lety Sultri

VIVA – Dokter Helmi yang diduga menembak mati istrinya, dokter Lety Sultri (46), selalu memberikan keterangan berbeda dan cenderung tidak konsisten selama pemeriksaan.

Tapi polisi tidak mau terlalu cepat menyimpulkan mengenai gangguan mental yang dihadapi pelaku. Pendalaman pemeriksaan akan dilakukan guna mengungkap motif sesungguhnya dari aksi keji yang dilakukan pelaku.

"Kami masih menunggu. Pelan-pelan sampai dia mau ngomong semuanya," kata Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Argo Yuwono di Polda Metro Jaya, Jakarta, Kamis, 9 November 2017.

Lebih lanjut Argo menjelaskan bahwa penyidik akan menyertakan psikolog dalam pemeriksaan berikutnya. Ini untuk mengetahui kondisi kejiwaan Helmi.

"Nanti (kami bawa) psikolog. Dia sih mau bicara ya, tapi suka diam, ngomong lagi. Kami tunggu pemeriksaan penyidik," ujar Argo.

Seperti diketahui, dokter Lety Sultri tewas tertembak di tempat praktiknya di Azzahra Medical Centre, Cawang, Jakarta Timur, Kamis, 9 November 2017. Diduga ditembak suaminya sendiri, Helmi.

Setelah menembak mati istrinya, Helmi kemudian dengan santai pergi naik ojek online. Beberapa jam kemudian, dia menyerahkan diri ke Polda Metro Jaya.

Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Metro Jakarta Timur Ajun Komisaris Besar Polisi Sapta Maulana mengatakan, dokter Helmi juga pernah dilaporkan dokter Lety atas tindakan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

"Istrinya pernah melaporkan kasus KDRT," ujar Sapta.

Tapi kasusnya tidak dilanjutkan karena Lety telah mencabut laporannya. Tapi, dia tidak menjelaskan secara gamblang alasan Lety mencabut laporan.

Selain itu, dokter Helmi diduga juga pernah memperkosa karyawan sebuah klinik di kawasan Jakarta Timur. Namun korban tidak membuat laporan.

"Dia pernah kerja di sebuah klinik cuma dipecat karena kasus pemerkosaan. Korban tidak membuat laporan," ujarnya. (ase)