Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Kamis, 20 Agustus 2015 | 15:09 WIB
  • Menristek Bermimpi Kampus Indonesia Masuk 10 Terbaik Dunia

  • Oleh
    • Mohammad Arief Hidayat
Menristek Bermimpi Kampus Indonesia Masuk 10 Terbaik Dunia
Photo :
  • VIVA.co.id/Anhar Rizki Affandi
Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Mohamad Nasir.

VIVA.co.id - Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristek Dikti), Mohamad Nasir, berharap ada perguruan tinggi di Indonesia yang masuk dalam daftar sepuluh kampus terbaik dunia.

Sejauh ini, sepuluh kampus terbaik dunia masih didominasi perguruan tinggi di negara-negara maju, seperti Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Belanda, Australia, Kanada, Swiss, dan lainnya. Kampus-kampus terbaik di Indonesia baru masuk terbaik Asia, itu pun masih dalam 100 besar.

Menteri mengakui bahwa memang tak mudah untuk mencapai sepuluh besar. Pertama dan utama adalah harus mengubah pola pikir dunia akademik Indonesia menjadi national competitiveness atau memiliki kompetensi nasional.

Dikutip dari siaran pers yang diterima VIVA.co.id, Nasir menyebutkan sejumlah tolok ukur agar perguruan tinggi di Indonesia memiliki kompetensi nasional. Pertama, skill worker atau keterampilan tenaga kerja.

"Lihat dosen yang dimiliki, kualifikasi doktor berapa banyak, sudahkah mencapai 50 persen. Kalau masih kurang harus ditingkatkan lagi," kata Nasir dalam sebuah seminar di kampus Universitas Negeri Makassar, Kamis, 20 Agustus 2015.

Tolok ukur kedua adalah inovasi atau penemuan hasil riset. Kalau banyak inovasi dalam suatu negara, pasti berdampak langsung pada kompetensi nasional. Inovasi itu memang seharusnya lebih banyak muncul dari perguruan tinggi dibanding lembaga lain.

Hasil riset dan inovasi pun dapat dimanfaatkan untuk masyarakat atau kalangan industri, sehingga mampu menyerap banyak tenaga kerja. Semakin berkurang tingkat pengangguran, tentu akan meningkatkan kompetensi nasional.

Menggiatkan riset di perguruan tinggi, kata dia, merupakan masalah tersendiri. Soalnya ada sejumlah kriteria yang harus dipenuhi, di antaranya, dosen yang berkualitas. Pengajar yang berkualitas itu ditunjang pula kompetensi, riset, dan publikasi yang dilakukannya

Dia mewanti-wanti dosen maupun mahasiswa Indonesia agar menghindari penjiplakan atau plagiarisme. Tindakan itu tak hanya melanggar etika pendidikan maupun intelektual, melainkan juga mengurangi kreativitas dan inovasi yang seharusnya lahir dari karya orisinal.

Faktor lain yang memengaruhi kegiatan riset dan inovasi, Menteri menambahkan, adalah infrastruktur atau sarana dan prasarana.

Infrastruktur yang tak memadai tentu akan menghambat kreativitas. "Ini semua saling terkait dalam tata kelola perguruan tinggi yang baik,” ujarnya.

Mahasiswa kupu-kupu

Menteri mencermati secara khusus perilaku sebagian mahasiswa Indonesia yang tak serius kuliah, atau serius tetapi cuma menggugurkan kewajiban kuliah. Perilaku pertama tampak pada mahasiswa-mahasiswa hedonis yang lebih menyukai hura-hura.

Tipe kedua biasanya rajin kuliah tapi formalitas semata, tanpa mengikuti kegiatan-kegiatan akademik atau intelektual lain.

"Jangan ada mahasiswa kunang-kunang (kuliah nongkrong), apalagi mahasiswa kupu-kupu (kuliah pulang)," ujarnya.

Menteri menambahkan, mahasiswa merupakan penerus dan penggerak penting bagi kemajuan suatu perguruan tinggi. Dalam waktu dekat, pemerintah akan menerapkan program Kampusku Bebas Narkoba, Kampusku Bebas Korupsi.

"Pemerintah juga memberikan banyak bantuan bagi mahasiswa yang kurang mampu dalam mengikuti serta menyelesaikan perkuliahan, di antaranya dengan beasiswa Bidik Misi," katanya.