Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Sabtu, 22 Agustus 2015 | 06:24 WIB
  • Menjelajah 'Kota Bawah Tanah' di Papua

  • Oleh
    • Renne R.A Kawilarang
Menjelajah 'Kota Bawah Tanah' di Papua
Photo :
  • VIVA.co.id / Renne Kawilarang
Tambang bawah tanah Freeport di Tembagapura, Papua.

VIVA.co.id - Siang hari 17 Agustus 2015. Dua ratusan orang bergembira dan foto bersama setelah upacara Hari Ulang Tahun Hari Kemerdekaan RI ke-70. Mereka sama-sama berkumpul di sebuah ruangan dengan lebar 14 meter, panjang 200 meter, dan tinggi 9 meter.

Ini bukan di suatu gedung, melainkan di sebuah ruang bawah tanah, lima kilometer jauhnya dari pintu masuk Terowongan Ali Budiardjo - mengambil nama Presiden Direktur pertama PT Freeport Indonesia asal putra bangsa pada 1973.   

Ruangan ini merupakan satu dari lima tambang bawah tanah milik PT Freeport Indonesia di atas Kota Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua. Tambang ini bernama DMLZ (Deep Mine Level Zone), 1,6 km dalamnya dari puncak bukit Grasberg, yang setinggi 4.285 meter dari permukaan laut.

Usia tambang bawah tanah ini baru tujuh tahun dan baru mulai digarap pada September 2015. DMLZ ini termasuk masa depan Freeport Indonesia, yang mulai 2017 nanti tidak akan lagi mengambil hasil tambang di alam terbuka seperti di puncak Grasberg dan akan fokus pada eksplorasi bawah tanah.

Tambang bawah tanah Freeport

Presiden Direktur Freeport Indonesia, Maroef Sjamsoeddin, tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya usai memimpin upacara HUT Kemerdekaan RI di bawah tanah bersama para petambang.

“Ini akan menjadi tambang bawah tanah terbesar di dunia. Dan, yang lebih membanggakan, tambang bawah tanah ini merupakan hasil karya anak-anak bangsa Indonesia,” kata Maroef, yang baru tujuh bulan memimpin perusahaan tambang tembaga, emas dan perak terbesar di Indonesia itu.

Hengky Rumbino, Wakil Presiden Freeport Indonesia untuk Operasional Tambang Bawah Tanah, juga memancarkan rasa bangga. “Kerja keras putra-putri Indonesia dalam mengupayakan tambang bawah tanah ini benar-benar istimewa. Tambang ini akan digarap secara moderen dengan menggunakan teknologi tinggi,” kata Hengky, putra bangsa asal Papua yang turut terlibat dalam proyek DMLZ itu.

Lokasi tempat dilaksanakannya upacara itu merupakan ruangan terluas, namun bukan satu-satunya yang ada di tambang DMLZ.  Tambang itu dirancang menjadi gorong-gorong raksasa yang punya beragam cabang dan sejauh ini sudah menggali terowongan sepanjang 110 km. Dan itu masih akan bertambah, mengingat terowongan ini dibangun sepanjang 32 km per tahun.

Hengky mengungkapkan, kegiatan produksi di DMLZ akan segera berlangsung mulai 15 September 2015. “Tambang ini akan mencapai puncak produksi pada 2021 dengan hasil produksi 80 ribu ton bijih per hari,” kata dia.

Tambang DMLZ ini tak ubahnya akan menjadi seperti kota kecil, mengingat kawasan itu akan digarap sebanyak 2.450 pekerja. Sebagian di luar dengan mengendalikan robot dan sebagian lagi di dalam tambang.

Tambang bawah tanah Freeport

Maka, sejumlah infrastruktur sudah disiapkan untuk para pekerja di dalam, seperti dua motor fan berkapasitas 2.200 KW untuk menyediakan angin bersih  sebesar 900m3/s bagi pekerja, mesin pemecah batu (crusher) berkapasitas 2.000 ton/jam, dan 5,5 KM ban berjalan yang akan membawa bijih ke pabrik pengolahan.

Hengky juga mengungkapkan, persiapan penunjung keselamatan bagi para pekerja juga telah disiapkan. Elemen paling penting adalah portable chamber, atau ruang khusus bagi pekerja saat terjadi keadaan darurat. “Chamber ini ditempatkan di area-area yang letaknya jauh dari jalan utama tambang, atau jauh dari lokasi udara masuk,” kata Hengky.

Fasilitas ini dapat menampung 8-20 orang dan dapat bertahan selama 30 jam tanpa pasokan udara dari luar. Selain portable chamber, DMLZ juga telah membangun satu chamber permanen terbesar di dunia, yang dapat menampung 250-300 orang.

Pekerja tambang bawah PT Freeport Indonesia.

Itulah sebabnya standar keselamatan benar-benar ketat. Untuk masuk ke tambang, siapa pun harus mengenakan perlengkapan lengkap. “Harus pakai helm khusus dengan senter di bagian depan, tabung oksigen darurat yang dikenakan di pinggang, dan harus memakai rompi serta kacamata khusus,” kata Yoga, seorang petugas tambang.

Dia mengungkapkan bahwa tambang DMLZ ini diolah secara bergantian, terus-menerus selama 24 jam. “Kami bekerja delapan jam sehari dan terbagi dalam shift. Tidak boleh sendiri-sendiri. Masuk dan keluar harus bersama-sama,” kata Yoga, yang baru tiga tahun bekerja di tambang bawah tanah.

Tambang bawah tanah Freeport masjid

Tambang bawah tanah Freeport gereja

Di tambang itu, fasilitas lain seperti toilet dan tempat ibadah juga disediakan. Itulah sebabnya ada masjid dan gereja yang lokasinya bersebelahan di dekat ruang utama. Dua tempat ibadah ini mampu menampung 250 orang.   

Yoga mengungkapkan bahwa selama di tambang bawah tanah itu, ada dua pantangan besar yang harus ditaati semua pekerja. “Pertama, tidak boleh ada yang tidur, karena bisa mengancam keselamatan apabila sewaktu-waktu ada keadaan darurat. Kedua, bermain. Jangan bermain apa pun selama bekerja di dalam tambang, entah itu bermain kartu atau game,” kata Yoga. 

Tambang bawah tanah Freeport