Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Jumat, 19 Mei 2017 | 17:48 WIB
  • NU dan Muhammadiyah: Indonesia Bukan Negara Agama

  • Oleh
    • Bayu Adi Wicaksono,
    • Ichsan Suhendra
NU dan Muhammadiyah: Indonesia Bukan Negara Agama
Photo :
  • Twitter Nahdlatul Ulama
Pertemuan NU dan Muhammadiyah, Jumat, 19 Mei 2017.

VIVA.co.id – Dua organisasi umat Islam terbesar, Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah, sepakat menyatakan Indonesia merupakan negara kebangsaan. Atas pernyataan ini, NU dan Muhammadiyah akan bersikap tegas kepada pihak mana saja yang mengatasnamakan agama dan suku untuk mengusik NKRI. 

"NU dan Muhammadiyah sudah sepakat, Indonesia bukan negara agama, bukan negara suku. Tapi kebangsaan. Kita sikapi tegas yang terpikir mengubah dasar negara," kata Ketua Umum Pengurus Besar NU, Said Aqil Siradj di acara Halaqah Kebangsaan NU dan Muhammadiyah di Perpustakaan NU, Gedung PBNU, Jakarta, Jumat, 19 Mei 2017.

Menurut Said Aqil, tindakan pembubaran ormas Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang dilakukan pemerintah, merupakan salah satu langkah penanggulangan terhadap semakin meluasnya pemahaman anti NKRI.

Said Aqil mengatakan, dengan adanya pertemuan antara NU dan Muhammadiyah ini, bisa menjadi gambaran bagi umat Islam untuk kembali bersatu. Memegang teguh Pancasila dan tetap menjunjung tinggi harkat dan martabat bangsa.

"Pertemuan ini tidak ada pamrih, mari umat Islam bersatu kembali, pilkada sudah selesai," ucap Said Aqil.

Sementara itu, menurut Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Abdul Mu'ti, paham anti NKRI begitu mudah masuk ke Indonesia, karena beberapa hal. Seperti keterbukaan di era informasi dan kedekatan emosional antara Palestina dan Indonesia.

"Secara historis, kedekatan sangat kuat, Indonesia dengan Arab, Palestina. Konflik di Palestina akan dapat berbagai resonansi di sini. Apalagi kalau ada yang terbunuh di Palestina, demo besar-besar," kata Mu'ti.