Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Jumat, 19 Mei 2017 | 19:46 WIB
  • Survei LSI: Mayoritas Muslim Indonesia Tolak Negara Islam

  • Oleh
    • Bayu Adi Wicaksono,
    • Eka Permadi
Survei LSI: Mayoritas Muslim Indonesia Tolak Negara Islam
Photo :
  • ANTARA FOTO/Widodo S. Jusuf
Umat Muslim kibarkan bendera Merah Putih saat aksi unjuk rasa.

VIVA.co.id – Meski sempat gencar isu di sosial media tentang pendirian negara Islam untuk menggantikan Pancasila. Tapi ternyata berdasarkan hasil survei yang dilakukan Lingkaran Survei Indonesia (LSI), Denny JA, lebih dari 70 persen umat Muslim menolak negara Islam.

"Di segmen agama mayoritas responden Muslim dengan 72,8 persen menginginkan demokrasi Pancasila," kata Peneliti LSI, Andrian Sopa di kantornya, Jumat, 19 Mei 2017.

Sedangkan responden beragama Protestan 83,3 persen menginginkan demokrasi Pancasila. Katolik 81,8 persen. Hindu 73,5 persen dan pemeluk agama lainnya 83,3 persen.

"Yang menarik umat Muslim adalah mayoritas di Indonesia. Namun dari hasil survei tampak mereka menolak negara Islam," ujarnya.

Hal tersebut diperkuat dari hasil survei dengan pertanyaan, 'apakah bapak ibu menginginkan Indonesia tumbuh menjadi negara demokrasi liberal seperti Amerika, negara Islam seperti Timur Tengah, atau berdasarkan keunikan sendiri seperti demokrasi Pancasila?'.

"74,0 persen memilih demokrasi Pancasila. 8,7 persen menginginkan negara Islam seperti Timur Tengah. 2,3 persen ingin demokrasi liberal seperti negara barat dan 15,0 persen tidak menjawab," katanya.

Penolakan negara Islam diperkuat dengan survei berdasarkan orientasi keagamaan Islam dari responden. Nahdlatul Ulama sebanyak 78,2 persen memilih demokrasi Pancasila. Muhammadiyah sebanyak 71,0 persen. Organisasi Islam lainnya 61,3 persen. Bukan bagian organisasi Islam mana pun 72,5 persen.

Survei ini dilakukan pada  5-7 Mei 2017 di seluruh Indonesia. Survei menggunakan 1200 responden dengan metode multistage random sampling dan margin of eror 2,9 persen. Selain itu survei dilakukan dengan cara wawancara, tatap muka dengan responden dan kuisioner.  (ase)