Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Kamis, 15 Juni 2017 | 14:49 WIB
  • Kisah Lima Warga Jepara Membangun Mimbar Masjidil Aqsa

  • Oleh
    • Mohammad Arief Hidayat,
    • Zahrul Darmawan (Depok)
Kisah Lima Warga Jepara Membangun Mimbar Masjidil Aqsa
Photo :
  • www.jerusalemshots.com
Masjid Al Aqsa.

VIVA.co.id - Tak disangka, replikasi mimbar Nuruddin Zanki pada Masjidil Aqsa yang dibakar Israel tahun 1969, ternyata melibatkan lima orang pengukir kayu asal Jepara, Jawa Tengah. Perjuangan yang tak mudah bagi kelima warga Jepara itu, salah satunya ketika berhadapan langsung dengan tentara Israel.

Kisah kelima warga Jepara itu terungkap setelah Adara Relief International, lembaga swadaya masyarakat yang memiliki perhatian pada urusan Palestina, berhasil menemui tiga dari lima orang yang terlibat.

Mereka, antara lain, Abdul Mutholib (47 tahun), Zaenal Arifin (42 tahun), dan Ali Ridho (65 tahun), warga Desa Tegal Sambi, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara. Dua lainnya adalah Sarmidi (53 tahun) dan Mustafid Dinul Azis (39 tahun).

“Merupakan kebahagiaan bagi kami di sini menerima kehadiran pengurus Adara. Ini adalah apresiasi pertama yang kami terima dari sesama masyarakat Indonesia,” kata Zaenal Arifin ketika ditemui di sekretariat Adara Relief di Depok, Jawa Barat, pada Kamis, 15 Juni 2017.

Kisah Lima Warga Jepara Bangun Mimbar Masjidil Aqsa

Para pegiat Adara Relief International bersama warga Jepara pengukir mimbar khotbah untuk Masjidil Haram di Depok, Jawa Barat, pada Kamis, 15 Juni 2017. (VIVA.co.id/Zahrul Darmawan)

Zaenal menceritakan, replikasi panggung khotbah di tempat suci umat Islam yang terletak di Yerusalem itu melibatkan tiga negara: Turki, Yordania, dan Aljazair. Wakil-wakil tiga negara itu secara periodik mengawasi proses replikasi mimbar.

Zaenal hampir selalu tak bisa menjawab lugas ketika wakil-wakil tiga pemerintah itu bertanya kepadanya dan rekan-rekannya, "Mana wakil pemerintah Indonesia?” Dia memahami maksud pertanyaan mereka, mengapa Indonesia sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia malah tak terlibat dalam replikasi mimbar Masjidil Aqsa itu.

Militer Israel

Rekan Zainal, Abdul Mutholib, pengukir yang berkesempatan memasang potongan-potongan ukiran langsung di Masjidil Aqsa. Selama 10 hari, bapak dua anak ini tinggal di lingkungan masjid ketiga yang dianjurkan Nabi Muhammad untuk menjadi salah satu tempat yang harus dikunjungi setelah Masjidil Haram di Mekah dan Masjid Nabawi di Madinah.

“Saya sangat senang dan bangga bisa terlibat dalam proses replikasi mimbar Nuruddin Zanki ini, yang membuat saya bisa langsung mendatangi dan salat di Masjidil Aqsa,” ujar pria yang biasa disapa Tholib itu.

Tholib mengisahkan pengalaman mendebarkan ketika mereka ditahan di perbatasan Yordania-Israel. Semua potongan ukiran yang berjumlah 16.300 keping dan terbungkus rapi masing-masing dalam kertas anti-api dan diangkut dengan menggunakan enam mobil pikap, dibongkar satu per satu untuk alasan keamanan.

Militer Israel sebenarnya telah mengawal dan mengawasi para pekerja sekaligus potongan-potongan ukiran yang mereka bawa sejak berangkat dari Yordania. Pasukan Israel dari Yordania memfoto setiap potongan ukiran sebelum berangkat lalu diperiksa lagi begitu sampai di perbatasan negara Zionis. Mereka mencocokkan satu per satu setiap potongan dengan foto yang diambil sebelum berangkat.

"Bisa dibayangkan betapa melelahkan dan merepotkan serta mendebarkan bagi kami proses tersebut,” kata ayah dua anak itu.

Dicari sejak lama

Agus Santoso, Kepala Desa Tegal Sambi, berterus terang baru mengetahui ada warganya yang terlibat dalam peristiwa penting dan menjadi bagian sejarah Masjidil Aqsa.

Dia mengaku bangga meski merasa bersalah baru mengetahui rekam jejak warganya itu. Dia berjanji menebus kesalahannya dengan mempertemukan tiga orang itu dengan Bupati Jepara dan Gubernur Jawa Tengah. "Semoga juga bisa diupayakan untuk bertemu dengan Gubernur Jawa Tengah,” ujarnya dalam kesempatan yang sama.

Ketua Adara Relief International, Nurjanah Hulwani, mengaku bangga dan terharu bisa bersilaturahmi dengan tiga warga Jepara yang membuatnya makin bersemangat untuk peduli pada Palestina dan Masjidil Aqsa.

“Ini adalah pertemuan yang membahagiakan sekaligus mengharukan bagi saya karena bapak-bapak ini sudah kami cari sejak lama," kata Nurjanah.

Hanya karena pertolongan Allah, katanya, mereka dipertemukan dan saling berbagi pengalaman serta pengetahuan. "Semoga kita umat Islam bisa segera salat di Masjidil Aqsa dalam kondisi Palestina merdeka seutuhnya," ujarnya, sekaligus menyerahkan tanda kasih kepada warga Jepara itu.

Adara akan menyebarluaskan kabar gembira itu kepada masyarakat Indonesia atas kerja mulia yang ditunaikan putra-putra Jepara dalam keterlibatannya membuat mimbar pada Masjidil Aqsa. Mimbar untuk khotbah itu dikerjakan selama empat tahun di Yordania dan dirangkai selama 10 hari di Masjidil Aqsa.