Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Senin, 17 Juli 2017 | 15:03 WIB
  • Kesenjangan Tinggi, Buya Khawatir Prahara 98 Terulang

  • Oleh
    • Endah Lismartini,
    • Agus Rahmat
Kesenjangan Tinggi, Buya Khawatir Prahara 98 Terulang
Photo :
  • VIVA.co.id/Agus Rahmat
Ahmad Syafii Maarif atau Buya Syafii

VIVA.co.id – Kondisi ketimpangan sosial saat ini, menurut sesepuh Muhammadiyah Ahmad Syafi'i Ma'arif, sudah mengkhawatirkan. karena banyaknya konglomerat yang menguasai lahan.

Dalam pertemuan empat mata dengan Presiden Joko Widodo, mantan Ketum Muhammadiyah itu mengkhawatirkan kerusuhan 1998 lalu. "Pemerintah sudah bekerja tapi harus dipercepat. Sebab kalau tidak, ini timbul lagi nanti prahara sosial, Mei 1998. Itu kan hancur kita," kata Buya Syafi'i, di Istana Negara, Jakarta, Senin 17 Juli 2017.

Program reformasi agraria, yang membagi lahan kepada masyarakat, menurut Buya syafi'i cukup baik. Hanya memang perlu lebih cepat. Buya berpendapat tidak hanya pemerintah yang perlu bergerak. Tetapi juga para pengusaha dan konglomerat.

"Saya sudah bicara dengan tiga konglomerat kelas hiu, enggak saya sebut nama. Saya bilang ini kalau ketimpangan dibiarkan begini, ngamuk rakyat nanti. Mereka paham betul," kata Buya.

Buya menjelaskan, ketimpangan sosial saat ini menurutnya bukan kesalahan pemerintahan Presiden Jokowi. Tetapi sudah berlangsung puluhan tahun, sejak jama Orde Baru.

"Seperti jalan rumput kering yang rentan sekali dan bisa memicu macam-macam, pakai agama segala macam itu," katanya.