Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Rabu, 9 Agustus 2017 | 09:31 WIB
  • Salesman Bakso di Masjid Nabawi Jadi Perhatian Jemaah Haji

  • Oleh
    • Eko Priliawito
Salesman Bakso di Masjid Nabawi Jadi Perhatian Jemaah Haji
Photo :
  • Media Center Haji (MCH) 2017
Yunus, salesman bakso di pelataran Masjid Nabawi, Madinah.

VIVA.co.id – Tulisan BAKSO berukuran besar dipegang seorang pria di halaman Masjid Nabawi. Hal ini, tentu menarik perhatian jemaah haji Indonesia yang ada di sekitar masjid.

Sebagian berhenti dan bertanya, di mana warung baksonya? Lalu, pria bernama Yunus yang tenyata salesman warung bakso itu memberi penjelasan.

Yunus yang merupakan mukimin asal Lombok ini menjelaskan dengan detail lokasi, sambil menujuk tulisan bakso cukup besar di dinding Hotel Royal Andalus yang cukup megah.

"Itu ada di depan pintu 22. Adanya di lantai M," kata Yunus, sambil menunjukkan tempatnya kepada jemaah, Selasa waktu setempat, 8 Agustus 2017.

Dia juga menawarkan menu lain selain bakso. Ada ayam goreng, ayam bakar, cumi, dan masakan seafood lainnya. Jemaah yang kangen dengan makanan khas Indonesia, tentu akan tertarik. Harga satu mangkok bakso dipatok 13 real, atau sekitar Rp46 ribu.

Menurut Yunus, warung bosnya itu selalu ada setiap musim haji. Sebab, harga sewanya cukup mahal, sekitar 300 ribu real untuk satu musim haji, setara lebih dari 1 miliar rupiah. Bukan harga murah hanya untuk warung bakso.

“Buka habis salat subuh sampai jam 11 siang. Tetapi, nanti buka lagi sampai jam 10 malam. Rata-rata bisa jualan lebih dari 1.000 porsi," kata Yunus.

Kata Yunus, bosnya juga orang Indonesia dan berasal dari Karawang. Namanya Fahrurozy. Bosnya itu juga pemilik travel umrah dan sekaligus pengusaha katering haji dan umrah di Arab Saudi.

“Bos saya orang Karawang, dan hampir semua pekerjanya asli Indonesia. Dari tukang masak sampai penjaga warung dari Indonesia,” kata Yunus.

Buka sejak subuh, selain orang Asia, pembeli bakso di warung itu banyak juga orang dari Timur Tengah dan Afrika. Menariknya, bumbu-bumbu yang digunakan sebagian besar asli Indonesia, walaupun sebagian dikombinasikan dengan bumbu asal India dan Thailand. Bahkan, beras yang digunakan juga beras Pandan Wangi asli Cianjur.

Bakso memang mampu melambungkan nama Indonesia melalui citarasanya. Selain menjadi pengobat rindu bagi jemaah Indonesia, bakso dengan nama Si Doel Karawang ini juga menjadi semacam primadona bagi jemaah dari berbagai negeri. (asp)