Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Rabu, 9 Agustus 2017 | 11:17 WIB
  • Presiden Jokowi Buka Simposium Asosiasi MK se-Asia

  • Oleh
    • Hardani Triyoga,
    • Ridho Permana
Presiden Jokowi Buka Simposium Asosiasi MK se-Asia
Photo :
  • VIVA.co.id/Ikhwan Yanuar
Presiden Jokowi Buka Simposium Internasional MK se-Asia

VIVA.co.id – Presiden Joko Widodo membuka secara resmi Simposium Internasional Asosiasi Mahkamah Konstitusi dan Institusi Sejenis se-Asia (the Association of Asian Constitutional Courts and Equivalent Institutions/AACC) di Auditorium Universitas Sebelas Maret (UNS Surakarta), Solo, Jawa Tengah. Menkopolhukam Wiranto dan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo ikut mendampingi Jokowi.

Dari pantauan VIVA.co.id, Jokowi bersama Wiranto tiba di Auditorium UNS pukul 09.30 WIB. Hadir sebagai peserta simposium internasional ini 13 negara anggota AACC, 7 negara sahabat dari Asia, Eropa, dan Afrika. Kemudian, lebih dari 190 peserta dalam negeri yang terdiri atas anggota Komisi III DPR, pejabat kementerian dan lembaga, praktisi hukum, serta perwakilan akademisi dari beberapa perguruan tinggi se-Indonesia.

Penyelenggaraan Simposium Internasional AACC ini merupakan kegiatan puncak untuk menutup periode kepemimpinan Mahkamah Konstitusi Indonesia sebagai Presiden AACC periode 2014-2017. Acara ini sekaligus untuk memperingati HUT ke-14 MK. Kali ini simposium mengangkat tema “Mahkamah Konstitusi sebagai Penjaga Ideologi dan Demokrasi dalam Masyarakat Majemuk”.

Dalam sambutannya, Jokowi mengatakan, Solo sebagai tuan rumah merupakan salah satu daerah yang mencerminkan kemajemukan. Ketika dia menjabat menjadi wali kota Solo dulu, Jokowi berupaya menegakkan hak-hak konstitusional masyarakat yang beragam.

"Pengalaman mengelola kota ini menjadikan prinsip konstitusi untuk menegakkan demokrasi. Kemajemukan bukan penghalang untuk kita bersatu, kita disatukan dalam bingkai Konstitusi UUD 1945. Indonesia punya sejarah yang panjang mengelola keberagaman," ujar Jokowi, Rabu 9 Agustus 2017.

Jokowi menjelaskan, penting menjadikan Pancasila sebagai ideologi. Dengan hak-hak konstitusional itu, semua warga negara sama. Selain itu, konstitusi menjadi pelindung warga negara. Konstitusi jadi pemersatu masyarakat untuk membangun praktik konstitusi yang sehat.

"Dengan konstitusi tidak ada yang namanya diktator. Tantangan kita dalam berkonstitusi tidak sepenuhnya mudah karena semua telah berkembang saat ini, dan semakin banyak tantangan," tutur Jokowi.

Selain itu, Presiden menyinggung paham radikalisme, aksi terorisme, dan persoalan lain menjadi tantangan negara Indonesia. MK diharapkan bisa berperan untuk memperkuat negara.

"Radikalisme, terorisme, perdagangan manusia, narkoba dan lainnya menjadi PR bagi semua. Peran MK menjadi semakin penting dengan kemajuan zaman. MK menjadi jangkar dan interpretasi konstitusi untuk diamalkan," katanya.

Untuk diketahui, simposium internasional ini mengusung tema “Mahkamah Konstitusi sebagai Penjaga Ideologi dan Demokrasi dalam Masyarakat Majemuk". Kegiatan ini akan berlangsung 9-10 Agustus 2017. Usai memberikan sambutan, Jokowi memukul gong sebanyak tiga kali tanda dibukanya simposium. (Webtorial)