Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Rabu, 9 Agustus 2017 | 17:24 WIB
  • Polemik Patung Dewa China di Tuban dari Izin sampai Isu SARA

  • Oleh
    • Mohammad Arief Hidayat,
    • Nur Faishal (Surabaya)
Polemik Patung Dewa China di Tuban dari Izin sampai Isu SARA
Photo :
  • Antara
Patung Dewa Perang Kongco Kwan Sing Tee Koen setinggi 30,4 meter di Tuban, Jawa Timur, ditutup dengan kain menyusul protes dari masyarakat pada Minggu, 6 Agustus 2017.

VIVA.co.id - Patung Dewa Perang atau Kong Co Kwan Sing Tee Koen yang berdiri di Klenteng Kwan Sing Bio di Kabupaten Tuban, Jawa Timur, jadi polemik. Isu kebangsaan dan agama terseret-seret. Patung setinggi 30 meter itu kini ditutup kain putih karena gelombang protes dari sebagian warga Jawa Timur.

Patung tersebut mulai didirikan pengurus Klenteng Kwan Sing Bio pada Desember 2016 lalu. Sebelum itu, tepatnya pada bulan Maret, pihak pengurus mengajukan izin pendirian kepada instansi terkait Pemerintah Kabupaten Tuban. Izin dimaksud ialah Ijin Mendirikan Bangunan atau IMB.

"Pihak pengurus Klenteng mengajukan izin pendirian, yakni IMB-nya, kepada kami, tetapi tidak kami keluarkan," kata Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Pemkab Tuban, Agus Wijaya, dihubungi VIVA.co.id melalui sambungan telepon genggam pada Rabu, 9 Agustus 2017.

Di tahun yang sama, lanjut Agus, melalui Satuan Polisi Pamong Praja surat peringatan agar tidak meneruskan pendirian patung Dewa Perang itu disampaikan kepada pengurus Klenteng. "Sampai tiga kali kami mengeluarkan surat peringatan, tapi diabaikan," ujarnya.

Patung Dewa Perang itu akhirnya berdiri dan diresmikan oleh Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat, Zulkifli Hasan, pada Juli 2017 lalu. Agus mengaku bahwa Pemkab Tuban tidak diundang pada peresmian patung tersebut, kendati yang meresmikan Ketua MPR. "Tiba-tiba sudah diresmikan. Pak Zulkifli hadir secara pribadi," ujar Agus.

Beberapa pekan diresmikan, protes muncul dari sejumlah elemen masyarakat. Salah satunya organ mengatasnamakan Boemi Poetra Menggoegat. Kelompok ini menuntut agar patung tersebut tidak berhubungan dengan sejarah nasiolisme Indonesia, karena itu harus dirobohkan. Isu agama juga sempat terselip saat mereka beraksi.

Agus menjelaskan, pihak Klenteng Kwan sing Bio berinisiatif sendiri menutup patung raksasa itu dengan kain putih setelah jadi polemik sepekan terakhir ini. "Kami akan menggelar rapat bersama Forkopimpda, MUI, FKUB dan beberapa elemen lain untuk menentukan langkah selanjutnya," ucap Agus.

Ketua Klenteng Kwan Sing Bio Tuban, Gunawan, belum berhasil dimintai keterangan maupun tanggapan terkait polemik patung Dewa Perang yang didirikan oleh yayasannya itu. Dihubungi melalui telepon genggam dia tidak merespons. Pertanyaan melalui pesan singkat juga belum dia balas.