Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Rabu, 9 Agustus 2017 | 17:51 WIB
  • Ada Tindak Kriminal, Jemaah Haji Diminta Waspada

  • Oleh
    • Lis Yuliawati,
    • Eko Priliawito
Ada Tindak Kriminal, Jemaah Haji Diminta Waspada
Photo :
  • REUTERS/Ahmed Jadallah
Ilustrasi haji

VIVA.co.id – Sejumlah peristiwa yang merugikan jemaah haji Indonesia mulai  bermunculan di Mekah, Arab Saudi. Kejadian tersebut di antaranya tindak kriminal sampai penipuan terkait jasa dorong kursi roda.  

Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) meminta jemaah haji Indonesia selalu waspada dan berkoordinasi dengan petugas mengenai kendala yang dihadapi. 

Berdasarkan data-data yang masuk melalui Kasie Linjam, Letkol Rijal Kani, setidaknya ada dua kasus pencopetan dan lima kasus penipuan terkait jasa dorong kursi roda. Pelaku adalah mukimin yang tidak bertanggung jawab dan mencari keuntungan dari jemaah.

Untuk memberi keamanan dan kenyamanan, Rijal Kani telah meminta seluruh personel Linjam di setiap sektor untuk waspada dengan orang-orang tidak dikenal yang masuk ke hotel.

"Sudah banyak yang kami tangkap, dari sektor 2, 5, 6 dan 8. Mereka ini mukimin, yang menawarkan jasa dorong kursi roda. Sudah kami data semua, yang memiliki surat resmi (iqomah) kami beri peringatan dan yang tidak berizin akan kami serahkan kepada pihak keamanan di Arab Saudi," ujar Rijal saat ditemui di Daker Mekah, Rabu, 9 Agustus 2017.

Menurut Rijal, kejadian ini tidak bisa dibiarkan. Bila tidak terdata atau jemaah tidak berkoordinasi, akan sulit melacak pelaku bila jemaah menjadi korban. Karena itu dibutuhkan koordinasi dengan petugas. Mereka yang memiliki niat baik membantu meski mendapat bayar tetap harus didata.

"Kementerian haji Arab Saudi sebenarnya sudah siapkan petugas jasa dorong bagi jemaah lansia untuk tawaf dan sai. Harganya saat ini mencapai 250 real," katanya.

Sementara itu, Pelaksana Linjam Mayor Reza Fajar Lesmana menambahkan, penertiban terhadap oknum mukimin di pemondokan jemaah akan  terus dilakukan. Perlindungan demi memberi rasa aman kepada jemaah harus diutamakan.

"Kami akan pantau terus keberadaan mereka (oknum mukimin) di pemondokan jemaah. Karena itu jemaah jangan mudah percaya, sebelum berkoordinasi dengan petugas," katanya.

Reza menceritakan, sebelumnya ada jemaah yang mengeluarkan uang sampai 1.000 real dan Rp1,8 juta sebagai jasa dorong untuk tawaf dan sai. Meski oknum ini menyelesaikan tugasnya tapi harga yang diambil sangat tidak wajar. Juga ada jemaah yang dicopet tasnya yang berisi uang dan buku kesehatan saat berada di pintu King Abduk Azis.

"Kami mengimbau agar jemaah selalu berkoordinasi dan jangan mudah percaya begitu saja," katanya.

Saat ini kondisi di Masjidil Haram sudah mulai dipenuhi jemaah haji dari berbagai negara. Keaadan akan lebih ramai mendekati waktu salat. Karena itu, jemaah harus waspada dan tidak ceroboh. Jangan menganggap tidak ada kejahatan di Masjidil Haram.