Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Kamis, 10 Agustus 2017 | 05:30 WIB
  • Patung Dewa Raksasa Diprotes, Orang Tuban Bagaimana?

  • Oleh
    • Harry Siswoyo,
    • Nur Faishal (Surabaya)
Patung Dewa Raksasa Diprotes, Orang Tuban Bagaimana?
Photo :
  • Antara
Patung Dewa Perang Kongco Kwan Sing Tee Koen setinggi 30,4 meter di Tuban, Jawa Timur, ditutup dengan kain menyusul protes dari masyarakat pada Minggu, 6 Agustus 2017.

VIVA.co.id – Keberadaan patung Dewa Perang, atau Kong Co Kwan Sing Tee Koen di Klenteng Kwan Sing Bio Kabupaten Tuban, Jawa Timur, diprotes sebagian masyarakat sepekan terakhir ini. Tetapi, protes tersebut secara umum tidak mengusik kehidupan masyarakat setempat.

"(Kondisi Tuban) dari kemarin-kemarin sampai sekarang masih aman, enggak ada apa-apa," kata Kepala Kepolisian Resor Tuban Ajun Komisaris Besar Polisi Fadly Samad, dihubungi VIVA.co.id, Rabu 9 Agustus 2017.

Dia mengatakan, aktivitas warga Tuban normal seperti biasa, kendati sempat timbul protes atas keberadaan patung Dewa Perang bangsa China tersebut. Protes bergulir, karena patung itu tidak berhubungan dengan sejarah bangsa Indonesia. 

"(Kondisi Tuban) Seperti biasa saja. Tuban tidak ada masalah. Tidak ada gejolak. Pokoknya aman dan tertib di sini," ujar Fadly.

Pihak klenteng telah menutup patung setinggi 30 meter itu dengan kain putih. Penutupan dilakukan untuk mencegah gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat. "Patung ditutup atas inisiatif klenteng sendiri," kata Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Pemerintah Kabupaten Tuban, Agus Wijaya.

Dia menjelaskan, saat patung masih proses pengerjaan, Pemkab melalui Satuan Polisi Pamong Praja telah mengirimkan surat peringatan, agar pembuatan patung tidak dilanjutkan. Alasannya, izin mendirikan bangunan, atau IMB belum terbit. "Pengurus mengajukan izin pada Maret 2016," papar Agus.

Dia mengaku tidak tahu, ketika patung dewa bagi umat Buddha itu diresmikan oleh Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat, Zulkifli Hasan pada Juli 2017 lalu. Pemkab, kata Agus, tidak diundang. "Pak Zulkifli mungkin hadir meresmikan atas nama pribadi," tuturnya.

Saat ini, lanjut dia, Forum Komunikasi Pimpinan Daerah bersama Majelis Ulama Indonesia dan FKUB Tuban tengah mempersiapkan jadwal untuk melakukan rapat terkait polemik patung dewa tersebut. "Rapat akan dilakukan untuk menentukan langkah selanjutnya," ujar Agus. (asp)