Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Kamis, 10 Agustus 2017 | 11:23 WIB
  • Nelangsa Siswa SD di Maluku, Guru Menulis di Lantai Ubin

  • Oleh
    • Mohammad Arief Hidayat,
    • Angkotasan (Ambon)
Nelangsa Siswa SD di Maluku, Guru Menulis di Lantai Ubin
Photo :
  • VIVA.co.id/Angkotasan
Para siswa dan guru di SD Piliana Kecamatan Tehoru, Kabupaten Maluku, beraktivitas belajar-mengajar tanpa papan tulis sehingga terpaksa menulis di lantai ubin.

VIVA.co.id - Para siswa di sekolah dasar ini tampak belajar seperti lazimnya di sekolah--duduk di bangku dan di depannya meja, sementara seorang guru mengajar di seberang mereka. Tak ada atap yang jebol sehingga bocor ketika hujan.

Cuma metode belajar dan mengajar mereka yang berbeda. Sang guru mengajar dan, jika memerlukan menulis untuk menerangkan, dia akan melakukannya di lantai ubin. Kalau sang guru menguji para siswa dengan meminta mereka mengerjakan soal-soal sederhana, si murid akan menuliskan jawabannya di lantai itu pula.

Nelangsa Siswa SD di Maluku, Guru Menulis di Lantai

Para siswa dan guru di SD Piliana Kecamatan Tehoru, Kabupaten Maluku, beraktivitas belajar-mengajar tanpa papan tulis sehingga terpaksa menulis di lantai ubin. (VIVA.co.id/Angkotasan)

Tak ada papan tulis. Ubin pun jadi. Begitulah tekad para guru dan siswa di Sekolah Dasar Piliana Kecamatan Tehoru, Kabupaten Maluku. Sekolah mereka sesungguhnya memiliki papan tulis di tiap-tiap kelasnya tetapi rusak lebih setahun lalu. Tak ada anggaran untuk membeli papan tulis baru.

"Anak-anak tetap harus belajar, apapun caranya," kata Mince Istiya, guru kelas IV, saat ditemui ketika dia mengajar mata pelajaran matematika pada Kamis, 10 Agustus 2017. "Pakai ubin pun," katanya menegaskan, "saya harus tetap berusaha untuk membuat anak-anak mengerti dengan mata pelajaran."

Nelangsa para siswa dan guru di sekolah itu bermula ketika pada 2013 desa mereka menerima bantuan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM). Bangunan lama sekolah termasuk yang direnovasi dengan dana PNPM itu--tiga kelas dibangun dengan papan, lantainya ubin dan beratap seng, lengkap dengan meja dan kursi.

Tiap-tiap kelas dilengkapi papan tripleks berwarna putih sebagai pengganti papan tulis lama berwarna hitam dengan batang-batang kapur untuk alat tulisnya.

Aktivitas belajar para siswa yang berjumlah 96 anak pun dipindahkan ke ruangan baru. Sayang tripleks bantuan PNPM berumur pendek; papan itu rusak dan tidak lagi layak dipakai.

"Bertahun-tahun jubin di ruang ini kami jadikan sebagai akar untuk sarana menerangkan mata pelajaran yang kami ajarkan--yang penting demi anak-anak," kata Mince.

SD Piliana memang bukan sekolah milik pemerintah, melainkan swasta yang dibangun pada 1934. Sekolah itu didirikan para leluhur Desa Piliana sejak zaman penjajahan. Usianya sudah setua para alumnusnya dari generasi pertama, bahkan lebih tua dari umur Republik Indonesia.

Yayha Jusuf Tamala, mantan kepala sekolah SD Piliana, bahkan tak mengetahui pasti sejarah sekolah itu saking tuanya. Konon, menurut penuturan turun-temurun, sekolah itu awalnya dibangun untuk program pendidikan gereja di zaman penjajahan. Sekarang sekolah itu di bawah naungan Yayasan Pembinaan Pendidikan Kristen Dr JB Sitanala. (ase)