Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Jumat, 11 Agustus 2017 | 17:28 WIB
  • Panglima TNI Dukung Barter Komoditas dengan 11 Jet Sukhoi

  • Oleh
    • Dedy Priatmojo,
    • Eka Permadi
Panglima TNI Dukung Barter Komoditas dengan 11 Jet Sukhoi
Photo :
  • Puspen TNI
Panglima TNI, Jenderal Gatot Nurmantyo (tengah).

VIVA.co.id – Panglima TNI Jenderal, Gatot Nurmantyo, mendukung langkah pemerintah memanfaatan komoditas Indonesia sebagai alat pembayaran untuk pembelian alat utama sistem persenjataan (alutsista) berupa 11 pesawat Sukhoi Su-35 buatan Rusia.

[Baca: RI Barter Kopi dan Kelapa Sawit dengan 11 Jet Sukhoi Rusia]

"Barter ya sangat bagus dong. TNI hanya mengajukan spek saja. Minta Sukhoi SU-35 lengkap dengan persenjataannya," kata Gatot di kantor Kemendagri, Jakarta, Jumat 11 Agustus 2017.

Namun, Gatot mengaku tidak mengetahui bagaimana sistem barter itu akan dilakukan, dan berapa jumlah komoditas yang disiapkan pemerintah untuk barter dengan 11 pesawat Sukhoi SU-35 ini. "Tanya Mendag. Saya hanya tahu jenis pesawatnya. Yang proses Menhan dan Mendag," ujarnya.

Gatot, menjelaskan jenis Sukhoi Su-35 dipilih karena pesawat tersebut adalah salah satu yang terbaik di dunia dan sesuai dengan kebutuhan alutsista Indonesia. Di mana pesawat ini sudah berkali kali dilibatkan dalam operasi militer, sehingga TNI tidak ragu lagi untuk memilikinya.

"Kita harus membeli alat utama, sistem senjata yang terbaik dan pernah diujicoba untuk perang. Jadi kita enggak ragu-ragu. Jangan kita membeli hal-hal yang belum pernah di-uji coba dan kita yang menguji coba," tegasnya.

Sebelumnya Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan, Wiranto, mengungkapkan pemanfaatan komoditas Indonesia sebagai “alat pembayaran” untuk membeli alat utama sistem persenjataan (alutsista) buatan luar negeri adalah hal biasa. Indonesia bahkan telah melakukan hal itu sejak 19 tahun lalu.

"Ini bukan hal baru. Saya sudah pernah melaksanakan itu tahun 1998. Waktu itu beli Sukhoi," kata Wiranto di Istana Wakil Presiden, Senin, 7 Agustus 2017.

Kesepakatan menukar komoditas dengan kebutuhan militer itu, lanjut Wiranto, bergantung pada perjanjian antar dua negara. Barangnya pun menyesuaikan dengan keinginan penerima. "Komoditasnya macam-macam, sesuai dengan (kesepakatan) penjual atau pihak ketiga," ujar Wiranto.