Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Kamis, 14 September 2017 | 06:42 WIB
  • Cerita Ganjar Pranowo Ajak Dubes Inggris Selawatan

  • Oleh
    • Raden Jihad Akbar,
    • Dwi Royanto (Semarang)
Cerita Ganjar Pranowo Ajak Dubes Inggris Selawatan
Photo :
  • Dwi Royanto/VIVA.co.id
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.

VIVA.co.id – Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, memiliki pengalaman menarik dengan Duta Besar Inggris untuk Indonesia, Moazzam Malik. Pengalaman unik saat Ganjar mengajak duta besar muslim itu menghadiri acara selawatan.

Cerita itu terjadi pada awal 2016 lalu. Saat itu, Moazzam Malik tengah melakukan kunjungan kerja di Jawa Tengah dan mampir di kantor Ganjar di Semarang. 

Secara kebetulan, Pemprov Jawa Tengah saat itu sedang menggelar kegiatan keagamaan di depan kantor gubernur. Kegiatan itu tak lain adalah Jateng Berselawat, yang diisi oleh ulama kharismatik asal Solo, Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf.

"Dubes Inggris itu muslim, sama seperti Wali Kota London. Waktu saya ajak selawatan bersama Habib Syeikh beliau kaget dan senang banget," kata Ganjar saat bersilaturahmi di Pondok Pesantren Al Huda, Desa Jetis, Kecamatan Kutasari, Kebumen, Rabu malam, 13 September 2017. 

Tanpa diduga sebelumnya, saat mengikuti lantunan selawat bersama ulama berciri khas syiar dakwah melalui selawat itu, Dubes Inggris tampak kegirangan. Kepada Ganjar, Moazzam berkomentar menggelitik melihat suka cita ribuan jemaah melantukan doa dan selawat. 

"Beliau kaget. Katanya pengalaman orang berkumpul berselawat baru dialaminya di Indonesia. Dia bilang begini, 'kok bisa seperti ini orang banyak bisa berkumpul. Mereka bayar berapa? Karena di Inggris tidak ada', " jelasnya. 

Sejak saat itu, Moazzam bahkan kerap menghubungi Ganjar dan ingin diajak berselawat bersama. Permintaan serupa juga diungkapkan saat keduanya kerap bertemu di suatu acara di Jakarta. 

"Dia bahkan pengen diajak lagi. Pernah juga orang Australia juga gedek-gedek (terheran) saya ajak selawatan. Dia juga heran bukan main, " katanya.

Ganjar berpandangan pengalaman bersama Dubes Inggris itu menunjukkan kuatnya keberagamaan umat muslim Indonesia. Hal itu menjadi kekuatan yang harus dilestarikan sebagai bukti Islam Rahmatan Lil Alamin.

Tantangan santri

Di hadapan sekitar 1.500 santri Pondok Pesantren Al-Huda, Gubernur berambut putih itu berpesan agar santri bisa memegang teguh pendidikan karakter yang menjadi ciri khas pesantren. Terlebih bangsa ini kini menghadapi masalah serius, khususnya terkait etika di media sosial dengan banyaknya fitnah dan ujaran kebencian. 

"Banyak paham dijual (di dunia maya internet), komunis, radikal, semua 'dijual'. Kita negara yang punya perikemanusiaan yang beradab, berketuhanan, maka Indonesia punya ukurannya. Prinsip saling menghormati harus terus dijaga," tuturnya.

Namun demikian, Ganjar mengungkap tantangan yang masih dihadapi santri. Jika untuk persoalan mengaji dan budi pekerti sudah beres, masih ada pekerjaan besar lain yakini mengeksplorasi solusi permasalahan global. 

"Semisal farmasi, jamu yang bahan bakunya memiliki potensi besar namun ternyata produksinya masih kalah dengan Tiongkok dan India. Padahal apa saja di sini ditanam subur. Maka santri mesti punya kemampuan agar kita bisa berkompetisi di dunia era global ini," katanya.

Sementara itu, pengasuh Ponpes Al Huda KH Wahib Machfudz, dalam sambutannya menyampaikan tentang kondisi fasilitas dan pola pendidikan di pesantrennya. Ia menyambut kehadiran Gubernur Ganjar. Sebab dirinya yang merupakan keturunan ketiga mengelola pesantren ini, tapi baru kali ini didatangi gubernur.

"Mudah-mudahan Pak Ganjar dalam memimpin Jateng bisa aman, lancar, syukur bisa sampai dua kali periode," ujarnya disambut tepuk tangan ribuan santri. (ase)