Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Kamis, 14 September 2017 | 21:13 WIB
  • Penjelasan Pesantren Soal Bocah Indonesia yang Masuk ISIS

  • Oleh
    • Beno Junianto,
    • Bayu Nugraha
Penjelasan Pesantren Soal Bocah Indonesia yang Masuk ISIS
Photo :
  • bayu januar/VIVA.co.id
Ketua Yayasan Ponpes Ibnu Mas'ud, Agus Purwoko

VIVA.co.id – Bocah bernama Hatf Saiful Rasul dikabarkan terbang ke Suriah untuk menjadi petarung ISIS. Bocah berusia 11 tahun itu juga dikabarkan pernah menimba ilmu di salah satu pondok pesantren Ibnu Mas'ud di daerah Bogor, Jawa Barat.

Ketua Yayasan Ponpes Ibnu Mas'ud, Agus Purwoko, membenarkan bahwa Hatf pernah tinggal di Ponpes Ibnu Mas'ud. Namun, ia mengatakan, bocah tersebut hanya tinggal selama tiga bulan.

"Dia memang pernah tinggal tiga bulan. Waktu itu dia diantar oleh orang tua, tapi bukan orang tua korban," kata Agus di Gedung HDI Hive, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu 14 September 2017.

Lebih lanjut, ia menjelaskan, Ponpes Ibnu Mas'ud menerima semua anak yang ingin belajar agama tanpa memandang latar belakang. Karena itu, ia pun tidak mengetahui latar belakang bocah Hatf.

"Iya kami kan memang menerima anak. Ketika anak tidak diurus keluarganya, kami menerima ketika anak itu datang. Tapi kami tidak tahu dia anak siapa, latar belakang keluarga gimana," ujarnya.

Ia pun membantah selama bocah berusia 11 tahun tersebut berada di Ponpes Ibnu Mas'ud melakukan dan diajarkan paham-paham radikal dan terorisme.

"Aktivitasnya biasa, sama seperti yang lain yaitu baca alquran, hadis. Tidak ada perbedaan. Semua sama. Tugas juga sama. Dari pagi sampai malam," ucapnya.

Setelah tiga bulan belajar, katanya, sang bocah pun meninggalkan Ponpes Ibnu Mas'ud. Namun, dia tidak mengetahui ke mana bocah itu pergi. Sebab banyak anak yang keluar tapi tidak menjelaskan alasannya dan pihak Ponpes pun tidak menanyakannya.

Saat meninggalkan Ponpes, sang bocah pun hanya dijemput seseorang yang mengaku sebagai sanak saudaranya.

"Dia dijemput. Saya tidak tahu siapa (yang jemput). Ada yang ajak itu anak pulang. Pak izin, kami mau bawa anak kami. Kami mempersilakan. Soalnya dari kami, mau anak baru masuk sebulan atau tiga bulan, ya silakan kalau mau ambil lagi," katanya.

Ia pun mengaku baru mengetahui bocah Haft tewas di Suriah dan tergabung dalam ISIS dari pemberitaan media baik lokal maupun asing.

"Saya baru tahu dari media. Bahkan saya baru tahu ayahnya juga terlibat dalam aksi terorisme," katanya.

Dilansir dari Reuters, kasus keterlibatan bocah Indonesia bernama Haft terlibat dalam ISIS berawal saat dirinya mengunjungi ayahnya bernama Syaiful Anam di penjara berpengamanan tinggi di Timur Tengah. Hatf menjenguk ayahnya saat ponpes sedang libur. Syaiful Anam menceritakan tentang keterkaitan anaknya dengan kelompok ISIS dalam esai 12 ribu kata, diunggah secara daring.

Hatf memberi tahu ayahnya bahwa teman-teman dan guru-guru dari Ponpes telah pergi berperang untuk ISIS dan "menjadi martir di sana". Anam setuju melepasnya pergi ke medan perang. Dia mengatakan sekolah tempat Hatf belajar dikelola oleh "kawan-kawan seperjuangan yang menyebarkan ideologi kami".

Hatf kemudian pergi ke Suriah dengan kelompoknya pada 2015. Dia bergabung dengan kelompok petarung dari Prancis. Hatf dikabarkan tewas akibat serangan udara. Tiga petempur ISIS asal Indonesia di kota Jarabulus Suriah ikut mati. (ase)