Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Sabtu, 16 September 2017 | 10:21 WIB
  • Menilik Koleksi Perpustakaan Abdullah Ibn Abbas di Thaif

  • Oleh
    • Lis Yuliawati,
    • Eko Priliawito
Menilik Koleksi Perpustakaan Abdullah Ibn Abbas di Thaif
Photo :
  • VIVA.co.id/ Eko Priliawito
Perpustakaan Abdullah Ibn Abbas di Arab Saudi

VIVA.co.id – Sejumlah kota menjadi saksi perjuangan dakwah Rasulullah SAW. Selain Mekah dan Madinah, kota Thaif juga menjadi salah satu kota bersejarah. Banyak peristiwa yang terekam di wilayah dengan ketinggian mencapai 1.600 di atas permukaan laut ini, mulai dari hijrah Nabi hingga pertempuran pascaperang Hunain. 

Wajar jika di kota ini juga terdapat beberapa peninggalan sejarah. Seperti Masjid Addas dan Masjid Ku' (ku'un) yang dalam riwayatnya terkait dengan peristiwa Hijrah Nabi ke Thaif. Peninggalan sejarah lainnya, adalah Masjid Jami' Abdullah ibn Abbas. Sesuai namanya, di kompleks masjid ini dikisahkan terdapat makam Abdullah Ibn Abbas.

Bersebelahan dengan masjid ini, persisnya pada sisi bagian timur, terdapat sebuah perpustakaan yang juga diberi nama Abdullah ibn Abbas. Dia adalah salah satu sepupu sekaligus sahabat Rasulullah SAW. Dia dikenal memiliki pengetahuan luas. Banyak hadis sahih yang diriwayatkan melalui dirinya. Ia juga yang menurunkan seluruh khalifah dari Bani Abbasiyah. 

Dalam sebuah catatan yang ditempel pada dinding bagian luar perpustakaan, terdapat keterangan yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah menggendong Ibu Abbas kecil, dan mendoakan agar dia diberi keluasan ilmu dan hikmah. 

Catatan itu juga menjelaskan, Perpustakaan Abdullah Ibn Abbas dibangun pada tahun 1291 H oleh penguasa Hijaz Muhammad Rasyid Pasa asy-Syarwani. Dikisahkan, sebelum ada perpustakaan, mewakafkan kitab ke masjid bagi para pencari ilmu menjadi sebuah tradisi pada kurun abad tujuh hingga sepuluh Hijriah.  Bahkan, pada tahun 1217 H, jumlah kitab yang diwakafkan ke masjid hampir mencapai sepuluh ribu, termasuk sekitar tiga puluh naskah Kibab Shahih Bukhari.

Pada tahun 1346 H, perpustakaan ini dilebur dengan Perpustakaan Haram Al-Makky. Saat itu, banyak sekali koleksi manuskrip yang langka. Baru pada tahun 1384 H, tepatnya pada masa Raja Faishal bin Abdul Aziz, Syekh Hasan Arab membuka kembali perpustakaan ini hingga sekarang.

Tim Media Center Haji (MCH) Daker Mekah berkesempatan melakukan ziarah ke masjid dan perpustakaan Abdullah Ibn Abbas. Kunjungan rombongan para jurnalis ini dipimpin oleh Staf Khusus Menteri Agama Bidang Komunikasi Hadi Rahman serta Kepala Biro Humas, Data, dan Informasi Mastuki. Ikut juga dalam rombongan ini Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya, Prof Aswadi.

Perpustakaan Ibnu Abbas mempunyai luas sekitar 100 meter persegi. Perpustakaan ini menyimpan beragam koleksi, mulai dari prasasti hingga ribuan kitab, klasik dan kontemporer.  Di antara koleksi prasastinya, berupa tulisan arab yang belum menggunakan titik dan tanda baca (harakat). Ada juga tulisan yang sudah lengkap dengan titik dan tanda baca. 

Koleksi prasasti yang ada di perpustakaan ini disimpan dalam sebuah kotak kaca sehingga hanya bisa dilihat dan tidak bisa disentuh. Umumnya adalah batu nisan yang menjelaskan keterangan wafat seseorang. Salah satunya adalah Walid Bin Muflih bin Yazid yang wafat pada Ahad, 7 Jumadil Ula 550 H.

Selain prasasti, terdapat koleksi Alquran dan beberapa kitab lama yang juga disimpan dalam kotak kaca. Tidak banyak catatan atau keterangan yang bisa diperoleh tentang ini. Salah satu penjaga perpustakaan Abdul Salam juga tidak bisa memberikan keterangan rinci seputar koleksi ini. 

"Sayang data-data, buku maupun manuskrip yang ada belum mencerminkan sesungguhnya awal-awal Islam. Banyak memang buku-buku yang terbitan abad 17, dan bila dilihat kurang terawat dengan baik. Jauh bila dikaitkan dengan perpustakaan-perpustakaan di universitas barat," kata Mastuki.

Salah satu koleksinya berupa Alquran. Tampak dari halaman yang terbuka, terdapat catatan bahwa itu merupakan wakaf dari Syekh Muhammad bin Said bin Husain pada tahun 1264 H. Pada Alquran lainnya terdapat keterangan diwakafkan pada 1284 H.

Koleksi lainnya berupa ribuan kitab yang tersusun rapi berdasarkan bidang kajiannya, mulai dari Tafsir dan Ilmu Tafsir, Hadits dan Ilmu Hadits, Adab, Bahasa Arab, Nahwa dan Sharaf, Bahasa Inggris, Sirah Nabawiyah, Ekonomi dan Politik, serta pengetahuan umum seperti filsafat.