Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Sabtu, 16 September 2017 | 18:57 WIB
  • Presiden PKS Dibuat Menangis oleh Dua Bocah Rohingya

  • Oleh
    • Toto Pribadi,
    • Jeffry Yanto Sudibyo
Presiden PKS Dibuat Menangis oleh Dua Bocah Rohingya
Photo :
  • VIVA.co.id/Muhamad Solihin
Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo dan Presiden PKS Sohibul Iman

VIVA.co.id – Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Sohibul Iman menyampaikan kegelisahannya terkait konflik di Myanmar. Saat berorasi di depan massa aksi bela Rohingya 169, Sohibul mengaku meneteskan air mata saat mendengar kesaksian anak kecil Rohingya yang hadir dalam aksi tersebut.

"Saya membayangkan mereka berdua sebagai orang beruntung karena diselamatkan Allah. Mereka tiba di negeri ini, negeri yang insyaallah menjunjung perdamaian, yang selalu memiliki gotong royong," katanya saat berorasi di depan Patung Kuda, Jakarta Pusat, Sabtu 16 September 2017.

Dalam aksi bela Rohingya itu memang bergabung beberapa pengungsi termasuk dua bocah bernama Karim (7) dan Hasan (9). Mereka hadir sebagai tamu dan diberi kesempatan menggambarkan penderitaan yang mereka alami di Myanmar.

"Ini semua sudah kita pahami, maka saya ingin menyampaikan dengan kejadian Rohingya muncul kosa kata baru The World of Orphans yaitu yatim piatu dunia. Banyak dari orang-orang Rohingya hari ini tidak memilki Ayah dan Ibu," ujarnya.

Ia mengatakan, bahkan tempat tinggal pun mereka tidak punya karena diusir oleh pemerintahan negaranya sendiri. Kata dia, pemimpin yang harusnya jadi pegangan mereka ternyata berlaku beringas, membunuh serta mengusir balita, anak-anak, wanita, orang tua semua hari ini menjadi yatim piatu dunia.

"Kita menuntut sebetulnya tidak banyak, yang mereka inginkan memang dalam jangka pendek bantuan kemanusiaan. Tapi yang lebih penting dari bantuan kemanusiaan yang sifatnya jangka panjang yakni status kewarganegaraan mereka," katanya.

Dalam orasinya itu, Sohibul Iman juga meminta jika konflik yang terjadi di Myanmar ini tak merembet ke Indonesia. “Kalau ada yang berempati berdasarkan nurani kemanusiaan silahkan, akal sehat silahkan, empati dengan dasar agama silahkan. Tapi yang dilarang ketika empati itu melahirkan semangat balas dendam," ujarnya. (mus)