Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Minggu, 17 September 2017 | 06:00 WIB
  • Misteri Lambang Kelompok Rahasia di Kereta Jenazah Salatiga

  • Oleh
    • Zahrotustianah,
    • Dwi Royanto (Semarang)
Misteri Lambang Kelompok Rahasia di Kereta Jenazah Salatiga
Photo :
  • VIVA.co.id/Dwi Royanto
Komunitas Salatiga Urban Legends membersihkan kereta jenazah Belanda

VIVA.co.id – Kota Salatiga, Jawa Tengah memang dikenal sebagai salah satu kota yang memiliki sejarah panjang masa lalu. Hal itu dibuktikan dengan sejumlah peninggalan langka, salah satunya keberadaan tiga kereta jenazah zaman kolonial Belanda.

Tiga kereta unik tersebut tersimpan di sebuah garasi di daerah Ngentak, Kutowinangun Kidul, Kecamatan Tingkir. Memang, keberadaan kereta jenazah itu belum banyak diketahui orang. Namun peninggalan kuno itu menyimpan sisi sejarah cukup menarik. 

Warin Darsono, seorang Pegiat Sejarah Salatiga Urban Legends menyebut, satu dari tiga kereta jenazah di Salatiga memiliki perbedaan cukup mencolok. Salah satunya terdapat ornamen kaca yang cukup unik berlambang organisasi rahasia Freemason. Lambang tersebut berupa segitiga dan mata satu. Diperkirakan kereta jenazah ini dibuat tahun 1896, saat organisasi rahasia yang dibawa Belanda tersebut masuk Salatiga. 

"Ketiga kereta jenazah tersebut diperkirakan telah berusia 250 tahun," kata Warin, Sabtu, 16 September 2017. 

Berdasarkan sejumlah literatur, Freemason sendiri adalah sebuah organisasi rahasia yang memiliki pengikut di seluruh dunia. Organisasi ini konon dipercaya sebagai penganut setan dan diklaim bertanggungjawab atas terjadinya tiga revolusi di dunia, yakni Revolusi Prancis, Revolusi Amerika, dan Revolusi Industri di Inggris. Freemason juga dikabarkan ikut bertanggungjawab atas pecahnya Perang Dunia I.

Freemason sendiri aktif tersebar di seluruh Hindia Belanda atau Indonesia sejak tahun 1762 sampai 1962. Organisasi ini merupakan rumah pertemuan bagi kaum Vrijmetselarij yang dalam Bahasa Belanda disebut Loge atau Loji. Loji pertama di Asia "La Choisie" didirikan di Batavia oleh Jacobus Cornelis Mattheus Radermacher antara tahun 1741–1783. 

Pada tahun 1922, seorang Loji Agung Provinsi Belanda, kala itu di bawah Grand Orient of the Netherlands di Weltevreden (Batavia), ditugaskan mengendalikan 20 loji di koloni Indonesia. Rinciannya yakni 14 ada di Jawa, tiga di Sumatera, dan sisanya di Makassar, dan Salatiga.

Salah satu yang paling terkenal adalah Adhuc Stat alias Loji Bintang Timur yang terletak di Menteng, Jakarta Pusat. Gedung yang kini dipakai sebagai Gedung Bappenas itu sebelumnya dikenal warga sebagai Gedung Setan, karena sering dikira sebagai tempat pemangilan setan para anggota Freemason yang notabene merupakan para meneer Belanda.

Namun literatur terkait sejarah lengkap keberadaan penganut Freemason di Salatiga hingga kini masih misteri. Namun terlepas dari itu, tiga kereta jenazah di Salatiga sendiri terbilang cukup langka karena berada di luar keraton. Di Jawa Tengah, kereta jenazah zaman kolonial di luar keraton juga ada di Purworejo dan Jepara. Namun jumlahnya hanya ada satu. "Di Salatiga, kini sudah masuk dalam daftar registrasi di Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB)," ujarnya menjelaskan.

Ketiga kereta jenazah tersebut masuk dalam daftar registrasi BPCB pada 2015. Kala itu tim dari Salatiga Urban Legend melaporkannya bersamaan dengan temuan artefak zaman kerajaan Hindu di daerah Kecandran, Sidomukti.  "Tiga kereta ini juga kami lampirkan, namun dari pihak BPCB malah mengungkapkan jika kereta ini lebih spesial karena terhitung langka namun kondisinya masih terawat," ujarnya. 

Sementara Bagus Pujianto dari BPCB menyebut, tiga kereta jenazah tersebut berada di lingkungan kerkof atau makam Belanda. Keberadaannya pun masih terjaga hingga kini dan menjadi peninggalan penting di Salatiga. "Ini adalah tinggalan zaman Belanda. Uniknya, selain kereta yang masih terawat ada juga garasi aslinya. Di Garasi aslinya tidak ada lumut karena kelembapan terjaga baik," kata dia. 

Komunitas Salatiga Urban Legends membersihkan kereta jenazah Belanda

Perawatan

Untuk terus menjaga peninggalan langka kolonial Belanda di Salatiga itu, pihaknya bersama sejumlah komunitas menggelar kegiatan bersih-bersih kereta jenazah tersebut. Selain Salatiga Urban Legends, kegiatan bertajuk #giatcagarbudaya itu juga diikuti oleh komunitas Bojalali Heritage Society dan Rumah Tua Jogja. 

Melalui kegiatan itu, Warin berharap agar pemerintah lebih memperhatikan benda cagar budaya yang ada di Salatiga khususnya. Termasuk menanamkan kesadaran generasi muda untuk lebih mencintai sejarah masa lalu. "Karena selain memiliki nilai sejarah, peninggalan penting ini juga bisa menjadi pendukung wisata," katanya. 

Selain tiga kereta jenazah Belanda, Salatiga juga memiliki benda lain, termasuk sejumlah artefak zaman kerajaan Hindu. Oleh kolonial Belanda, Kota Salatiga sendiri disebut sebagai De Schoenste Stad Van Midden Java yang berarti  kota terindah di Jawa Tengah. (mus)