Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Minggu, 1 Oktober 2017 | 19:42 WIB
  • Siswi IPDN Meninggal saat Latihan Dasar di Akpol

  • Oleh
    • Syahrul Ansyari,
    • Dwi Royanto (Semarang)
Siswi IPDN Meninggal saat Latihan Dasar di Akpol
Photo :
Suasana Akademi Kepolisian. (Foto ilustrasi).

VIVA co.id - Seorang siswi calon Praja  Institut Pemerintah Dalam Negeri bernama Dea Rahma Amanda, 17 tahun, mendadak meninggal dunia saat mengikuti latihan dasar di Akademi Kepolisian Semarang, Jawa Tengah, Minggu, 1 Oktober 2017. Siswi tersebut meninggal dunia setelah melaksanakan pelatihan lari di lapangan sekitar pukul 08.15 WIB.

Gubernur Akpol, Inspektur Jenderal Polisi Rycko Amelza Dahniel, menuturkan bahwa siswi tersebut merupakan angkatan 2017 yang tercatat sebagai calon Praja asal Lampung. Sebelum meninggal gadis 17 tahun tersebut dinyatakan masih dalam keadaan sehat. Namun, saat menjalani latihan Dea langsung pingsan.

Ia menceritakan, awalnya almarhumah bersama rekan-rekannya menjalani pelatihan seperti biasa. Korban bangun pagi pukul 04.00 WIB untuk mengikuti salat berjemaah dan pengajian.

"Kemudian masih ikut makan bersama lalu dilanjutkan apel pagi pukul 07.45 WIB, " kata Rycko saat meninjau jenazah calon praja itu di RS Bhayangkara Semarang.

Namun, setelah siswi tersebut mengambil kegiatan fisik dengan lari satu putaran dan dilanjutkan berbaris bersama teman-temannya, ia langsung terjatuh dan pingsan.

"Jarak yang dekat membuat kami memutuskan membawa almarhumah ke Bhayangkara, namun ia telah dinyatakan meninggal," katanya.

Rycko mengaku turut berduka cita atas meninggalnya siswi asal Lampung tersebut. Ia menyebutkan bahwa rangkaian laksar di Akpol dimulai sejak 9 September sampai 6 Oktober 2017.

"Kita ingin tahu jejak rekam medisnya di IPDN. Yang jelas tidak ditemukan kekerasan fisik karena laksar praja putri dipisah dengan putra," ujar Rycko.

Gubernur Institut Pemerintah Dalam Negeri, Ermaya Suradinata, menambahkan tak ada latihan yang berlebihan dalam diksar yang dijalankan pihaknya di Akpol Semarang. Ia menyebut, jika almarhumah sebelumnya punya histori sesak napas.

"Pengakuan ke temannya ada sesak napas, gejala-gejala  itu ada. Setelah makan bilang ke teman perutnya agak kenyang, kemudian lari mutar satu dua kali, biasa, tidak ada yang berlebihan, prosedur juga sudah  ditempuh," katanya.

Saat ini, jenazah korban berada di RS Bhayangkara untuk dilakukan autopsi. Namun upaya autopsi masih menunggu keluarga korban yang datang dari Lampung. (one)