Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Minggu, 1 Oktober 2017 | 20:18 WIB
  • Isu Senjata Dikhawatirkan Timbulkan Perpecahan

  • Oleh
    • Syahrul Ansyari
Isu Senjata Dikhawatirkan Timbulkan Perpecahan
Photo :
  • setkab.go.id
Personel TNI dan Polri saat senam bersama.

VIVA.co.id - Pengamat militer Connie Rahakundini Bakrie mengingatkan bahwa isu pembelian senjata api ilegal bisa saja rawan dan berbahaya bagi dua institusi yakni TNI dan Polri, baik secara politik maupun kelembagaan. Alasannya karena bisa menimbulkan perpecahan.

"Karena terkesankan barang ini ilegal padahal bukan," kata Connie kepada VIVA.co.id, Minggu, 1 Oktober 2017.

Connie menuturkan bahwa TNI dan Polri merupakan lembaga yang berada dalam satu wadah yaitu NKRI. Tentunya, ada aturan dan mekanisme ketika terjadi tumpang tindih, muncul masalah, atau bahkan benturan dalam menjalankan tupoksinya masing-masing termasuk dalam pengadaan barang ini.

"Karenanya sebenarnya akan lebih bijaksana jika panglima belajar kembali sumpah prajurit, memegang rahasia negara sekeras-kerasnya dan menyelesaikan semua secara ketatanegaraan. Tidak usah disebar di ruang publik sehingga tidak menimbulkan keresahan di masyarakat (polemik), apalagi sampai menimbulkan perpecahan baik antaraparatur negara maupun di masyarakat itu sendiri," ujar dia.

Meskipun demikian, penulis buku “Pertahanan Negara dan Postur TNI Ideal” itu mengakui ratusan senjata yang tertahan di Bandara Soekarno-Hatta merupakan kualifikasi militer. Dan sesuai Permenhan, polisi tidak boleh mempunyai senjata kualifikasi militer. Namun, dia kembali mengingatkan bahwa itu legal karena sudah melalui APBNP 2017.

Bila dirunut, tambah dia, masalah tersebut justru bisa menyerang presiden karena impor alat pertahanan dan keamanan untuk TNI-Polri harus seizin Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP). Sedangkan Ketua KKIP adalah presiden.

Ratusan senjata dan ribuan amunisi milik Polri tertahan di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Minggu, 1 Oktober 2017. Kabarnya, senjata-senjata itu ditahan oleh Badan Intelijen Strategis TNI.

Padahal, senjata dan amunisi itu tiba di Bandara Soetta pada Jumat, 29 September 2017, sekitar pukul 23.30 WIB. Senjata diimpor PT Mustika Duta Mas dengan menggunakan pesawat carter model Antonov AN-12 TB dengan Maskapai Ukraine Air Alliance UKL-4024 dan akan didistribusikan ke Korps Brimob Polri. (one)