Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Senin, 2 Oktober 2017 | 10:17 WIB
  • Ganjar Pranowo: Nelson Mandela Saja Pakai Batik Pekalongan

  • Oleh
    • Mohammad Arief Hidayat,
    • Dwi Royanto (Semarang)
Ganjar Pranowo: Nelson Mandela Saja Pakai Batik Pekalongan
Photo :
  • VIVA.co.id/Dwi Royanto
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo memperingati Hari Batik Nasional dengan mengajar di SMA 1 Sokaraja, Kabupaten Banyumas, pada Senin, 2 Oktober 2017.

VIVA.co.id - Peringatan Hari Batik Nasional pada 2 Oktober 2017 dirayakan khusus Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Ia berkesempatan mengajar di sekolah batik di SMA 1 Sokaraja, Kabupaten Banyumas.

Ganjar maupun ratusan siswa dan guru kompak mengenakan baju batik. Gubernur lalu banyak bercerita tentang budaya batik yang wajib dilestarikan.

Salah satu cerita Ganjar ihwal batik adalah tentang mendiang Nelson Mandela, pemimpin Afrika Selatan. Pengakuan batik sebagai warisan dunia oleh Unesco pada Oktober 2009, katanya, tak lepas dari kiprah tokoh revolusioner pejuang anti-apartheid yang pernah dipenjara selama 27 tahun itu.

"Presiden Afrika Selatan, Nelson Mandela, itu satu lemari bajunya batik. Batiknya Nelson itu dari mana, coba? Dari Pekalongan, Jawa Tengah," kata Ganjar di hadapan ratusan siswa.

Mandela, kata Ganjar, dikenal dunia karena, salah satunya, gaya berbusananya yang khas. Pada acara resmi PBB maupun informal ia sering mengenakan kemeja bermotif batik. Perkenalan Nelson dengan batik berawal saat dia berkunjung ke Indonesia pada Oktober 1990. 

Meski Mandela kala itu terus memopulerkan batik di negaranya, kata Ganjar, ternyata batik menjadi pakaian yang terkesan sakral dipakai warga Afrika Selatan. Sebaliknya, kecintaan Nelson dengan batik mampu mengubah pandangan masyarakat Indonesia dan dunia tentang batik.

"Warga Afrika Selatan justru malah takut pakai batik, karena mereka menyebut batik sebagai pakaian Mandela atau Mandela’s Shirt. Maka itu juga aneh," kata Ganjar.

Terlepas dari itu, Ganjar menyebut meledaknya pasar batik dimulai ketika Unesco menetepkan batik sebagai warisan dunia pada Oktober 2009. Sejak saat itu, batik bahkan menjadi ikon seragam resmi yang paling luwes di semua instansi.

"Orang-orang hebat, politisi hebat zaman dulu juga berasal dari pedagang batik. Bahkan kini pameran batik telah ada di Milan, Spanyol, London, dan Amerika," ujarnya.

Gubernur meminta kecintaan terhadap batik tak sekadar cinta, namun juga harus mendalami batik secara total dengan memahami corak-corak batik Indonesia.

"Karena batik sebagai warisan bangsa yang adiluhung, apalagi desain batik sekarang bagus-bagus dan khas," ucapnya.

Bupati Banyumas, Achmad Husein, menyebut Kecamatan Sokaraja termasuk salah satu sentra batik terbaik di kabupaten itu. Ia menyampaikan apresiasinya kepada Gubernur yang sejak awal telah mengusulkan pemakaian batik bagi instansi pemerintah empat hari.

"Jadi kalau ditanya daerah mana yang empat hari pakai batik, hanya ada di Jawa Tengah. Demi batik agar tetap hidup, Pak Gubernur telah berani mengusulkan soal aturan itu," kata Husein. (hd)