Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Senin, 2 Oktober 2017 | 10:25 WIB
  • Asap di Kawah Gunung Agung Tipis, PVMBG Khawatir

  • Oleh
    • Lis Yuliawati,
    • Bobby Andalan (Bali)
Asap di Kawah Gunung Agung Tipis, PVMBG Khawatir
Photo :
  • VIVA.co.id/ Bobby Andalan
Kepala Sub Bidang Mitigasi Pemantauan Gunung Api Wilayah Timur PVMBG Devy Kamil

VIVA.co.id – Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengamati, asap putih masih keluar tipis dengan ketinggian rata-rata sekitar 50-200 meter, dari dalam kawah Gunung Agung, Bali. Asap solfatara yang merupakan representasi gas di dalam perut gunung tersebut, tercatat paling tinggi sekitar 600 meter pada 26 September 2017. 

Kepala Sub Bidang Mitigasi Pemantauan Gunung Api Wilayah Timur PVMBG Devy Kamil mengemukakan, pihaknya khawatir jika gas yang terbuang lebih kecil dari yang dihasilkan.

Devy menjelaskan mengenai fenomena asap solfatara tersebut. Di bawah Gunung Agung itu, menurut dia, ada kawasan yang lembut, lalu ada fluida, ada zona transisi. Karena Gunung Agung sudah pernah meletus, maka gunung tersebut mempunyai leher magma. Gunung  itu juga punya patahan-patahan.

"Ketika pergerakan magma, dia datang dari bawah. Dia bergerak terus, dia bermigrasi," ujar Devy, Senin, 2 Oktober 2017. 

Ketika sampai di permukaan bawah leher magma, dia tertahan. Magma kemudian menggumpal di bawah leher lantaran tak memiliki saluran untuk ke luar. Sementara leher saluran magma begitu keras dan belum dapat ditembus.

"Tapi datang terus menerus tekanan. Akhirnya dia menghasilkan gelembung gas yang terpisah dari cairan. Lama-lama gelembung gas itu makin banyak dan terus bertambah. Sampai akhirnya banyak sekali dan menjadi gelembung besar," kata Devy.

Jika sudah menjadi gelembung besar, ditambah tekanan terus menerus dari bawah, Devy menjelaskan, magma akan mencari sisi lemah dari Gunung Agung. "Ketika dia belum bisa lewat leher magma, akhirnya dia lewat patahan, maka akhirnya terjadi gempa. Akhirnya gempa-gempa ini muncul banyak sekali. Dia manifestasi dari pergerakan magma," urainya.

Dari data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, lokasi gempa itu berada di lokasi identik. Artinya, ada patahan di Gunung Agung yang teraktivasi. Selain gempa tektonik, pergerakan magma juga menghasilkan gempa vulkanik. Gas itu berusaha menekan dan naik terus sampai akhirnya nanti dangkal. "Kalau dangkal itu sudah di atas lima kilometer," ujarnya. 

Devy menambahkan, "Gempa misalnya, hari ini 4 kilometer kedalamannya, nanti akan terus kecil jadi 3 kilometer, itu pemahaman salah. Magma itu satu kesatuan. Bisa jadi dia gempa di kedalaman 4 kilometer, nanti 10 kilometer dan lainnya." 

Kumpulan gas itu berusaha terus untuk keluar. "Nah, sekarang kalau stiming ke atas dia terus mencari celah. Dan akhirnya September ketika dibombardir sekian banyak gempa keluarlah asap solfatara," ujar Devy. 

Menurut Devy, bagi sebagian pendaki mungkin sudah biasa melihat asap solfatara. Namun, tidak halnya dengan Gunung Agung. Ia melihat hal itu justru suatu keanehan. Sebab, sebelum Juli, menurutnya, dari pengamatan PVMBG tak ada asap solfatara yang ke luar dari kawah Gunung Agung.

"Tapi bagi kami itu aneh. Sebelum Juli kami amati itu tidak ada. Akhirnya setelah Juli itu mulai ke luar kecil. Mulai Agustus dan September mulai rutin tapi tipis. Tapi sekarang sudah berbunyi zzzzzzz. Itu namanya stiming jet. Sudah kebayang kan seperti apa itu," katanya.

Jika ada lubang yang bisa dia tembus kemungkinan gas terbuang besar. Pertanyaannya, ada kemungkinan tidak meletus? "Bisa. Tapi kalau injeksi dari bawah terus menerus dan lebih besar dari yang ke luar, dia bisa meletus. Sekarang tidak ada yang bisa mengukur yang terbuang dan masuk itu besaran mana."

Jika gas yang terbuang lebih kecil dari yang dihasilkan, Devy tak menampik akan terjadi letusan. Namun sebaliknya, jika gas yang terbuang lebih besar dari gas yang diproduksi, kemungkinan gunung gagal meletus.

"Jadi, kalau kami lihat asap yang ke luar sedikit, itu justru waswas kami karena gasnya tidak rilis kan. Inginnya kami rilis terus, kalau bisa membesar asapnya," ujarnya. (ase)