Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Selasa, 3 Oktober 2017 | 19:39 WIB
  • Anomali Gunung Agung Bikin PVMBG Bingung

  • Oleh
    • Lazuardhi Utama,
    • Bobby Andalan (Bali)
Anomali Gunung Agung Bikin PVMBG Bingung
Photo :
  • Bobby Andalan (Bali)
Gunung Agung di Karangasem, Bali.

VIVA.co.id – Sudah sebelas hari Gunung Agung berstatus awas. Hingga kini, probabilitas Gunung Agung akan meletus atau tertidur lagi masih belum ditentukan.

Aktivitas magma turun naik. Hal itu tentu saja membuat petugas Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) sedikit kebingungan dengan anomali gunung setinggi 3.142 mdpl tersebut.

Kepala Sub Bidang Mitigasi Pemantauan Gunung Api Wilayah Timur Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Devy Kamil, menjelaskan, jika dibandingkan dengan Gunung Kelud dan Merapi, aktivitas yang terjadi pada Gunung Agung mestinya telah terjadi letusan.

"Kalau di (Gunung) Kelud dan Merapi, dengan jumlah segini (aktivitas tekanan gas dan magma) sudah terjadi letusan, tapi ini belum," kata Devy di Pos Pengamatan Gunung Agung di Desa Rendang, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, Selasa 3 Oktober 2017.

Namun, ia memahami jika sudah terlalu lama Gunung Agung tak meletus. Terakhir meletus, gunung yang terletak di Kabupaten Karangasem pada 1963 atau 54 tahun silam.

"Sehingga, batuan di leher Gunung Agung ini sangat kuat dan batuan magma masih cukup menahan tekanan sampai sekarang. Tapi kita tidak tahu apakah masih bisa menahan atau bagaimana. Jadi, masih kita lihat pergerakan magma ini tetap di Gunung Agung," jelas Devy.

Sementara itu, Devy mengaku volume gas yang dikandung Gunung Agung belum bisa diestimasi jumlahnya. Sebab, belum ada teknologi yang bisa mengukur volume gas yang dikandung gunung api.

"Gas ini bukan hanya dari tiltmeter tapi juga dilakukan metode lain seperti alat seismik yang dipasang di enam titik di tubuh Gunung Agung," tutur dia.

Sayangnya, Devy mengaku belum bisa memastikan mitigasi ini cukup atau tidak untuk terjadi letusan. Karena, gunung tersebut punya penahan berbeda-beda.

Pria asal Bandung, Jawa Barat, itu menambahkan, untuk tekanan gas magma Gunung Agung, ia menganalogikannya dengan soda di dalam botol.

"Jika botol soda tersebut dikocok maka gas akan terakumulasi. Kalau tutupnya dibuka pelan-pelan gasnya akan keluar perlahan. Begitu pula sebaliknya. Jadi, harus tetap siaga karena siapa yang menginginkan kondisi seperti ini," paparnya.