Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Kamis, 5 Oktober 2017 | 05:00 WIB
  • Ketut Ngeteg ke Puncak Gunung Agung Berbekal Dua Gelas Air

  • Oleh
    • Bayu Adi Wicaksono
Ketut Ngeteg ke Puncak Gunung Agung Berbekal Dua Gelas Air
Photo :
  • Repro Instagram
Jro Mangku Pasar Agung saat di puncak Gunung Agung bersama Ketut Ngeteg.

VIVA.co.id – Dua warga Desa Sebudi, Kecamatan Selat, membuat geger Indonesia. Mereka nekat naik ke puncak Gunung Agung, saat gunung ini sedang dalam kondisi siap meletus.

Kedua warga itu yakni Ketut Ngeteg dan pemuka agama Hindu alias Jro Mangku dari Pura Pasar Agung di Kabupaten Karangasem, Bali. Ketut Ngeteg nekat naik ke puncak gunung demi mengantarkan Jro Mangku yang ingin menyampaikan sembah bakti pada Tuhan di gunung itu.

Saat berbincang dengan VIVA.co.id melalui sambungan telepon, Rabu, 4 Oktober 2017, Ketut Mangku menceritakan semua hal tentang pendakian berbahaya yang dilakukan pada Senin, 2 Oktober 2017.

Ketut menuturkan, dia dan Jro Mangku bertolak dari kaki Gunung Agung melalui jalur pendakian Pura Pasar Agung. Keduanya memulai perjalanan pada pukul 08.00 WITA.

"Kami berangkat dari Pura Pasar Agung berdua saja, membawa pujawali yang akan dipersembahkan ke Gunung Agung," kata Ketut .

Dalam melakukan pendakian itu, Ketut Ngeteg sama sekali tak membawa bekal berupa makanan. Menurutnya, meski harus berjuang di medan terjal menuju puncak gunung, dia hanya membawa air minum sebanyak kurang dari satu liter. 

"Cuma bekal dua gelas air mineral. Sekitar 500 mililiter. Tidak bawa makanan. Cuma sebelum berangkat makan di Pura Pasar Agung," katanya.

Ketut Ngeteg mengatakan, jarak antara Pura Pasar Agung sampai ke puncak gunung di ketinggian 3.142 mdpl sekitar 4.143 kilometer. Dan biasanya bagi seorang wisatawan atau pendaki gunung, waktu normal untuk mendaki ke puncak gunung, bisa memakan waktu selama empat jam.

"Kami sampai di puncak jam 10 kurang 10 menit. Jadi perjalanan dari Pura Pasar Agung sampai ke puncak sekitar dua jam. Jadi kami turun naik empat jam. Kalau biasanya wisatawan bisa delapan jam," katanya.

Setiba di puncak, Ketut Ngeteg mendampingi Jro Mangku ke bibir kawah untuk menyimpan pujawali dan menggelar proses sembah bakti pada gunung. Selama proses berlangsung, Ketut Ngeteg tak henti-hentinya memperhatikan kondisi kawah letusan Gunung Agung.

Ketut Ngeteg mengatakan, kondisi kawah yang tercipta akibat letusan pada tahun 1963, sungguh berbeda dengan saat dia melakukan pendakian sebelumnya.

"Kalau dulu tidak ada asap. Perbedaannya, cuma asap lubang dari kawah gunung agak bertambah. Tidak sama. Awalnya bulan-bulan September, waktu saya naik," katanya.

Ketut Ngeteg sebenarnya sudah cukup akrab dengan alam di Gunung Agung, apalagi menurutnya, sudah puluhan kali dia turun naik gunung itu. Sudah banyak wisatawan yang menggunakan jasanya memenadu mereka sampai ke puncak gunung ini.

"Sudah berapa kali ya, mungkin lebih (50 kali-red), saya sudah mendaki sejak tahun 2002, saya sudah jadi guide lokal. Sebulan bisa delapan kali turun naik," ujarnya.

Setelah prosesi sembah bakti usai dilakukan, Ketut Ngeteg dan Jro Mangku menyempatkan diri merekam kondisi di dalam kawah dan puncak gunung. Setelah itu, keduanya memutuskan untuk turun lagi. "Saya di atas cuma 15 menit, setelah itu turun," katanya.

Ketut Ngeteg mengatakan, meski dalam kondisi siap meletus, tapi ternyata masih banyak makhluk hidup lain yang ditemukannya sepanjang perjalanan di sekitar Gunung Agung. 

"Di puncak memang tidak ada apa-apa. Tapi agak bawah itu ada anjing dan burung-burung masih banyak," katanya.

Ketut menyadari betul bahwa apa yang telah dia lakukan itu sangat berbahaya dan bisa mengancam nyawanya. Apalagi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi sudah menyebutkan Gunung Agung mengeluarkan gas beracun dan setiap saat bisa erupsi.

"Saya tahu itu berbahaya. Tapi saya serahkan semua ini pada Tuhan. Ini Tuhan yang mengatur semuanya. Saya ke atas hanya menjalankan tugas mengantarkan Jro Mangku yang ingin menghaturkan sembah bakti dan berdoa untuk keselamatan semuanya," kata Ketut Ngeteg.

Seperti diketahui, saat ini status aktivitas vulkanik Gunung Agung berada pada level IV atas awas. PVMBG sudah merekomendasikan agar tak ada yang berada di zona merah letusan apalagi nekat naik ke puncak gunung. Zona merah berada pada radius 9 kilometer dan sektoral 12 kilometer ke arah barat, timur, utara dan selatan. (one)

Baca: Ketut Ngeteg Nekat ke Puncak Gunung Agung Demi Tugas Suci