Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Kamis, 5 Oktober 2017 | 12:40 WIB
  • Cerita Tiga 'Jimat' Jenderal Sudirman Lawan Kepungan Belanda

  • Oleh
    • Hardani Triyoga,
    • Agus Rahmat
Cerita Tiga 'Jimat' Jenderal Sudirman Lawan Kepungan Belanda
Photo :
  • ANTARA FOTO/Jojon
Personil TNI AD lakukan drama perjuangan Jenderal Sudirman di Kendari, Sulteng.

VIVA.co.id – Dalam perayaan HUT TNI ke-72 di Pelabuhan Indah Kiat Cilegon, Banten, 5 Oktober 2017, diperagakan sosio drama saat Panglima Besar Jenderal Sudirman bergerilya dalam agresi militer Belanda 1948 di Yogyakarta. Bertindak sebagai Jenderal Sudirman adalah Danang Priambodo Sudirman, yang merupakan cucu Jenderal Sudirman.

Dikisahkan, beberapa hari sebelum agresi militer itu, suasana di Yogyakarta sangat damai. Hingga akhirnya, tentara penjajah datang dan menyandera para warga.

Jenderal Sudirman yang mengetahui itu, melaporkan ke Presiden Soekarno. Dalam dialog itu, Bung Karno meminta Sudirman istirahat mengingat dalam keadaan sakit. Namun itu ditolaknya dan memilih untuk bergerilya.

Dalam keadaan sakit dan bergerilya, Sudirman menjadi incaran nomor satu Belanda. Beberapa kali, ia berhasil lolos.

Dalam sosio drama itu digambarkan saat rumah persembunyian Sudirman dikepung. Sudirman yang ahli strategi, menggunakan prajuritnya untuk mengelabui Belanda dengan cara mengenakan pakaian mirip Sudirman. Sehingga pasukan Belanda terkecoh dan Sudirman lolos.

Pada momen berikutnya, diperagakan saat Jenderal Sudirman sudah terkepung. Namun dengan cerdiknya, ia kembali berhasil mengelabui Belanda dengan strategi zikir.

"Kalau begitu, mari kita berzikir," perintah Sudirman saat mendapat laporan kalau posisi mereka tidak bisa bergerak lagi.

Ada seorang warga yang menjadi mata-mata, meyakinkan Belanda kalau yang berzikir itu adalah Sudirman yang mereka cari-cari. "Ini bukan Sudirman," kata tentara Belanda itu. Merasa ditipu oleh si mata-mata, tentara itu menembaknya.

Setelah lolos, seorang prajuritnya bertanya apa rahasia sehingga Sudirman sukses lolos dari kepungan Belanda. Sudirman kemudian menjelaskan tiga jimatnya.

"Jimat yang pertama saya tidak pernah lepas dari bersuci," kata Sudirman. Ia akan selalu berwudu, saat bergerilya.

Jimat kedua, Sudirman mengatakan selalu salat tepat waktu. Jimat ketiga, bahwa apa yang dilakukannya adalah tulus ikhlas.

"Bukan untuk diri sendiri, bukan untuk keluarga, bukan untuk institusi, bukan untuk partai, tetapi untuk seluruh rakyat dan bangsa Indonesia," jelasnya disambut tepuk tangan riuh.

Peran Danang sebagai Jenderal Sudirman, terlihat sangat menjiwai. Dari postur dan gaya jalannya, sangat mirip dengan Sudirman, kakeknya.

Hingga kemudian bisa mengusir Belanda dari agresi, Sudirman menemui Bung Karno dan kembali menyerahkan tampuk kepemimpinan negara.

Usai bertemu Bung Karno, Jenderal Sudirman menuju depan panggung kehormatan yang ditempati Presiden Jokowi, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dan para kepala staf.

Di hadapan Presiden Jokowi dan Jenderal Gatot, Danang kemudian membacakan kalimat-kalimat penuh nasionalisme dari Sudirman, kakeknya.

"TNI RI akan timbul dan tenggelam bersama negara. Mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan RI. Sampai titik darah penghabisan," ujarnya, disambut tepuk tangan, termasuk dari Jokowi.

"Sobek-sobeklah badanku. Potong-potonglah jasadku, tetapi jiwaku yang dilumuri benteng merah putih akan tetap hidup, tetap menuntut bela siapapun lawannya yang dihadapi," lanjutnya disambut tepuk tangan riuh.

"Tentara bukan merupakan suatu golongan di luar masyarakat. Bukan suatu kasta yang berdiri di atas masyarakat. Tentara hanya mempunyai kewajiban satu, ialah mempertahankan kedaulatan negara dan keselamatannya," lanjut Sudirman.

Pembawa acara kemudian mengumumkan bahwa Danang Priambodo Sudirman merupakan cucu Jenderal Besar Sudirman. Mendengar itu, Jokowi memberikan tepuk tangan sembari tersenyum. (one)