Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Jumat, 6 Oktober 2017 | 17:52 WIB
  • Mabes Polri: Amunisi Tajam untuk Melumpuhkan

  • Oleh
    • Dedy Priatmojo,
    • Irwandi Arsyad
Mabes Polri: Amunisi Tajam untuk Melumpuhkan
Photo :
  • Viva.co.id/Irwandi
Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Polisi Setyo Wasisto.

VIVA.co.id – Mabes Polri masih menanti rekomendasi TNI terkait impor senjata jenis Arsenal Stand Alone Grenade Launcher (SAGL) kaliber 40 x 46 milimeter sebanyak 280 pucuk. Senjata yang dikemas dalam 28 boks (10 pucuk/boks), dengan berat total 2.212 kilogram ini akan segera diserahkan ke Polri setelah diberi penilaian TNI.

"Terkait dengan SAGL, Mabes TNI akan segera keluarkan rekomendasi dengan catatan, amunisi tajam yang dimakssud, amunisi yang berisi butiran logam kecil-kecil itu, atau peluru tabur istilahnya. Dititip di Mabes TNI," kata Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol Setyo Wasisto di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Jumat 6 Oktober 2017.

Setyo mengatakan, jumlah amunisi yang masih menunggu rekomendasi TNI sebanyak 5.932 butir (71 boks) dengan berat 2.829 kg. Terdiri dari tiga jenis, yakni smoke atau asap, gas air mata dan amunisi tajam. Sedangkan untuk amunisi tajam nantinya akan dititipkan di Mabes TNI.

"Tajam tadi hanya mengejutkan dengan butiran (logam) kecil, tidak untuk mematikan tapi melumpuhkan. Sekali lagi melumpuhkan, itu perlu dipahami," tegasnya.

Mantan Wakil Kepala Baintelkam Polri itu mengakui ada perbedaan persepsi terkait amunisi senjata tajam itu. Tapi, Ia memastikan polemik itu sudah selesai dan tak ada masalah lagi. "Kita titipkan di TNI. Apabila diperlukan bisa diambil," ujarnya.

Seperti diketahui, Menkopolhukam Wiranto mengumpulkan semua petinggi negara yang terkait keamanan nasional. Mereka adalah Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo, Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian, Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu, hingga Kepala Badan Intelijen Nasional (BIN) Budi Gunawan.

Ada juga Direktur Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan RI Heru Pambudi, dan Direktur Utama PT Pindad (Persero) Abraham Mose. Sementara, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Jenderal Polisi Suhardi Alius dan Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komisaris Jenderal Polisi Budi Waseso juga diundang.

Wiranto menyampaikan, tujuannya mengumpulkan mereka adalah guna membahas terkait penggunaan senjata api oleh aparat negara yang belakangan sedang menjadi polemik. Ia memastikan TNI akan segera mengeluarkan rekomendasi yang dibutuhkan agar senjata bisa segera diambil dari Soekarno-Hatta.

Namun, mantan Panglima ABRI ini menegaskan, penerbitan rekomendasi hanya dilakukan dengan catatan tak ada amunisi tajam yang turut diambil Polri.

"SAGL 40 x 46 (milimeter), yang masih tertahan di Bea Cukai Bandara Soekarno-Hatta, akan segera dikeluarkan rekomendasi (untuk mengambilnya) dari Panglima TNI," ujar Wiranto.

Sebelumnya, ramai diberitakan terkait kedatangan ratusan senjatadi Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, pada Jumat malam, 29 September 2017. Senjata dan amunisi tiba sekitar pukul 23.30 WIB. Diketahui, senjata diimpor PT Mustika Duta Mas dengan menggunakan pesawat carter model Antonov AN-12 TB dengan Maskapai Ukraine Air Alliance UKL-4024 dan akan didistribusikan ke Brimob Polri.

Kedatangan amunisi senjata ini pun jadi pertanyaan publik. Terkait hal ini, Polri tak menampik jika senjata-senjata tersebut memang akan dikirimkan untuk Brimob.

Berdasarkan data yang beredar, amunisi senjata di Bandara Soetta berupa senjata jenis Arsenal Stand Alone Grenade Launcher (SAGL) kaliber 40 x 46 milimeter sebanyak 280 pucuk. Senjata dikemas dalam 28 boks (10 pucuk/boks), dengan berat total 2.212 kilogram.

Ada juga amunition castior 40mm, 40x 46mm round RLV-HEFJ dengan fragmentasi eksplosif tinggi Jump Grenade. Itu dikemas dalam 70 boks (84 butir/boks) dan 1 boks (52 butir). Total ada 5.932 butir (71 boks) dengan berat 2.829 kg.