Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Sabtu, 7 Oktober 2017 | 22:50 WIB
  • Kisah Perempuan Papua Jadi Tulang Pungung Keluarga

  • Oleh
    • Daurina Lestari,
    • Mohammad Yudha Prasetya
Kisah Perempuan Papua Jadi Tulang Pungung Keluarga
Photo :
  • VIVA.co.id/Zulfikar Husein
Wanita Papua

VIVA.co.id – Masalah sosial dan kemiskinan telah memaksa banyak perempuan Papua menjadi tulang punggung keluarga tanpa kehadiran suami. Mereka telah kehilangan suami mereka, karena ditangkap, dibunuh, atau bahkan hilang tak jelas rimbanya.

Masalah perempuan Papua menjadi topik utama dalam parade budaya bertajuk 'Sa Ada di Sini: Suara Perempuan Papua Menghadapi Konflik yang Tak Kunjung Usai' di Goethe Institute, pada 7-8 Oktober 2017. Acara ini  digelar oleh Asia Justice And Rights bersama Papua Women Working Group. 

Dalam sesi diskusi dan pemaparan, salah seorang aktivis pembela hak-hak perempuan Papua, Frida Klasim menjelaskan, masalah perempuan di Papua saat ini adalah kondisi di mana mereka memegang penuh kendali perekonomian keluarga, dengan sejumlah tantangan yang harus mereka hadapi dalam kesehariannya.

Hal itu tercermin dari padatnya aktivitas harian mereka, mulai dari urusan domestik rumah tangga, bahkan hingga aspek ekonomi yang harus mereka tanggung sendiri dengan berkebun demi menghidupi keluarganya.

"Hari ini mobilitas ekonomi di Papua banyak dipegang oleh kaum perempuan. Bahkan mereka sampai duduk lama-lama di pasar, dari pagi hingga sore untuk berjualan hasil tani mereka," ujar Frida di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu 7 Oktober 2017.

Frida yang juga merupakan anggota DPP Perwakilan Adat Papua Barat itu mengatakan, salah satu penyebab dominannya peran perempuan dalam ekonomi harian masyarakat Papua adalah banyak dari suami mereka yang ditangkap, dibunuh, atau bahkan hilang tak jelas rimbanya.

Oleh karenanya, dia pun menyerukan adanya upaya pengorganisiran para wanita, tulang punggung keluarga, agar tercipta suatu bentuk solidaritas di antara mereka.

"Karena hal ini luar biasa dari segi potensi perempuan Papua. Tapi sayangnya belum dikoordinasi dengan baik," kata Frida.

Masalah kesehatan

Di satu sisi, Frida juga mengakui bahwa dengan beban hidup yang sedemikian berat tersebut, banyak perempuan Papua yang mengalami masalah kesehatan yang belum terdeteksi.

"Ada banyak masalah dari kesehatan tubuh mereka. Salah satu masalahnya adalah jauhnya jarak dari sumber ketersediaan air bersih dengan rumah mereka," kata Frida.

"Padahal kita tahu bersama bahwa air ini adalah hal yang utama dari segala aktivitas mereka, mulai dari kebun hingga di rumah," ujarnya menambahkan.

Maka, Frida pun berharap agar kanal-kanal ketersediaan air yang saat ini masih sangat minim di sejumlah wilayah Papua, bisa segera mendapat uluran tangan dari pemerintah agar bisa dijaga ketersediaannya.

"Karena soal kebutuhan akan air ini harus diutamakan. Sebagai kebutuhan dasar, hal ini tentunya sangat penting sebagaimana aspek transportasi yang juga harus mendukungnya," ujarnya.