Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Senin, 9 Oktober 2017 | 18:00 WIB
  • PVMBG Datangkan Alat Pendeteksi Gas Vulkanik Gunung Agung

  • Oleh
    • Mohammad Arief Hidayat,
    • Bobby Andalan (Bali)
PVMBG Datangkan Alat Pendeteksi Gas Vulkanik Gunung Agung
Photo :
  • VIVA.co.id/Bobby Andalan
Udan Sain, Staf Bidang Geokimia PVMBG, menunjukkan alat pendeteksi gas vulkanik di Pos Pengamatan Gunung Api Agung di Kabupaten Karangasem, Bali, pada Senin, 9 Oktober 2017.

VIVA.co.id - Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi mendatangkan alat pendeteksi gas vulkanik Gunung Agung. Alat itu bernama Multi GAS (Multiple Gas Analyzer System), difungsikan untuk mengukur gas di udara sekitar lokasi Gunung Agung.

"Biasanya alat ini kami gunakan untuk mengukur gas-gas vulkanik atau gas-gas yang dilepaskan oleh gunung api," kata Udan Sain, staf Bidang Geokimia PVMBG, di Pos Pengamatan Gunung Agung di Kabupaten Karangasem pada Senin, 9 Oktober 2017.

Alat itu tak dipasang permanen atau dapat dipindahkan sesuai kebutuhan dan sering digunakan untuk mengukur kandungan gas gunung api di berbagai tempat. Awalnya alat itu hendak digunakan untuk pengukuran puncak Gunung Agung.

"Tapi berhubung aktivitasnya sangat tinggi dan PVMBG sudah merekomendasikan untuk tidak memasuki zona bahaya, sehingga sampai saat ini alat ini di Gunung Agung belum digunakan," kata Udan.

Karena alat itu untuk mengukur gas vulkanik, penggunaannya mesti ke sumber keluarnya gas. Alat tak dapat mendeteksi apa pun kalau jauh dari sumber gas. "Jadi, harus dibawa ke sumbernya, meski tidak langsung di titik keluarnya gas," ujarnya.

Kendati begitu, penggunaan alat itu tak mesti ditentukan dengan radius sekian untuk menangkap gas vulkanik Gunung Agung. Sepanjang tercium bau gas, alat bisa digunakan.

Melalui alat itu, kandungan gas vulkanik bisa terdeteksi. Minimal ada tiga gas yang bisa dideteksi alat hasil kerja sama dengan USGS itu. "Pertama gas sulfur terdiri atas SO2 atau belerang dioksida dan sulfur dioksida, kedua hidrogen sulfida (H2S), kemudian gas karbon dioksida (CO2)," katanya.

"Jadi, kami dapat konsentrasinya di titik itu. Kemudian untuk tujuan monitoring yang kami gunakan adalah rasio dari masing-masing gas. Yang dideteksi alat ini hanya konsentrasi, kemudian dari konsentrasi itu bisa diolah menjadi rasio. Dan alat ini secara otomatis juga akan memberikan hasil dalam bentuk rasio antargas," ujarnya.