Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Selasa, 10 Oktober 2017 | 18:20 WIB
  • Dialog Gaib Jro Wedra, Ada Pendaki Kotori Gunung Agung

  • Oleh
    • Bayu Adi Wicaksono,
    • Bobby Andalan (Bali)
Dialog Gaib Jro Wedra, Ada Pendaki Kotori Gunung Agung
Photo :
  • REUTERS/Darren Whiteside
Kondisi Gunung Agung usai naik status jadi awas.

VIVA.co.id – Jro I Ketut Wedra, seorang pemuka agama Hindu asal Kabupaten Buleleng, Bali, baru saja menyelesaikan tugasnya untuk menggelar ritual mendapatkan pewisik atau bisikan suci dari Tuhan, demi menjalankan misi kemanusian terkait bencana aktivitas Gunung Agung.

Ritual dilangsungkan selama delapan hari, dimulai dari pengambilan air suci di 17 pura yang ada di Pulau Dewata, selama tujuh hari. 

Air suci diambil dari Pura Rambut Siwi, Pura Tanah Lot, Pura Uluwatu, Pura Sakenan, Pura Goa Gajah, Pura Silayuti, Pura Segara Penimbangan dan Puri Jati Kintamani. 

Lalu, pada hari ke delapan diakhir dengan gelaran upacara pecaruan yang dipersembahkan untuk Ratu Agung Lingsir Geni Angkasa yang dipercayai bersemayam di Gunung Agung, yang digelar di Pura Penataran Agung Besakih.

"Saya diminta untuk nunas tirta segara di seluruh Pura Kahyangan Jagat yang ada di Bali. Dari tanggal 1 sampai tanggal 7 Oktober saya lakukan itu, sebelum akhirnya tanggal 8 Oktober menggelar persembahyangan besar di Pura Besakih," kata Jro I Ketut Wedra, Selasa 10 Oktober 2017.

Menurut Jro I Ketut Wedra, saat memimpin upacara dia sempat berdialog dengan Ida Bhatara Ratu Agung Lingsir Geni Angkasa. 

Dalam dialog itu, menurutnya, Ratu Agung Lingsir Geni Angkasa sudah tak marah lagi dan berjanji tidak akan meletus.  "Beliau berjanji tidak meletus," kata Jro I Ketut Wedra.

Jro I Ketut Wedra menuturkan, dalam dialog itu, Ratu Agung Lingsir Geni Angkasa juga sempat memaparkan penyebab Gunung Agung marah dan bersiap meletus. "Jadi, ada beberapa alasan yang membuat beliau marah belakangan ini," katanya.

Pertama, kata dia, masyarakat yang berada dalam radius 12 kilometer di bawah Gunung Agung dianggap tak pernah menyatakan terima kasih atas anugerah yang diberikan  Gunung Agung. 

"Di bawah gunung radius 12 kilometer itu tidak pernah mengucapkan terima kasih karena telah mengambil pasir Gunung Agung," kata Jro I Ketut Wedra.

Kedua, Ratu Agung Lingsir Geni Angkasa marah karena ada pendaki yang pernah mengotori kesucian Gunung Agung.

"Yang dimaksud mengotori itu ya, pendaki itu melakukan hubungan seksual tak sah (bukan suami istri) di Gunung Agung. Ini alasan kedua yang membuat beliau marah. Tapi sekarang beliau sudah tidak marah dan berjanji tidak akan meletus," kata Jro I Ketut Wedra. 

Seperti diketahui, gunung berketinggian 3.142 mdpl ini merupakan salah satu tempat yang disucikan masyarakat Bali pemeluk agama Hindu. 

Di puncak gunung ini dipercaya merupakan lokasi bersemayamnya para dewa dan sangat disakralkan.

Karena itulah, saat Gunung Aging mengalami peningkatan aktivitas vulkanik yang luar biasa dan berpotensi  meletus, ada saja masyarakat setempat yang mengaitkan aktivitas geologi ini dengan apa yang dipercayai selama ini. Bahkan, mereka rela menggelar prosesi ritual yang berat sekalipun.